Selasa, 28 Mei 2013

Suasana UNIGA hari ini :D


Assalamu’alaikum Annyeonghaseo Selamat siang guys , salam sehat dan sejahtera :)
Siang-siang gini menjelang sore dengan cuaca yang membingungkan yang kadang-kadang tadinya panas kemudian hujan dan bisa seketika berubah jadi mendung dan bikin galau juga nich yach guys fffftttttttt -_-
Hari ini tepatnya tanggal 28 mei 2013, suasana kampus UNIGA kita tercinta lagi sibuk-sibuknya ngadain Gladiresik buat acara besok Wisuda Graduasi mahasiswa pada angkatan 2007. Disela-sela kesibukan mereka yang super junior ehh salah maksud saya super sibuk :D, anak-anak kelas FIKOM (Fakultas Ilmu Komunikasi) B tercinta yang mungkin lagi rajin-rajinya belajar saking rajinnya kita semua ga libur kaya FEKON (Fakultas Ekonomi) yang kemudian kita mah tetep belajar kaya biasanya *padahal ngarep banget Dosennya ga hadir atau ada kesibukan apalah supaya kita bisa maen-maen aja sama temen-temen yang lain *ceritanya ngarep gitu deeeech :D *jengjengjeng* dan ternyata bener juga do’a saya dikabulkan juga oleh Alloh SWT dan Dosennya pun ada kesibukan jadi kita cuman bisa belajar sebenter ajaaa yesss *senyum Evil :D
Seperti biasa kita 4 sahabat yang luntang-lantung nunggu jadwal mata kuliah praktik Teknologi Komunikasi disela-sela waktu itu kita saling bercurhat-curhat ria hahaha
Yeah udah panjang lebar ngomong kemana-mana ujung-ujungnya saya mau ngucapin selamat aja buat kakak-kakakku tercinta untuk menghadapi Graduasi besok congratulatios yaaa , semoga acaranya berjalan dengan lancar aamiin
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.:)

Sabtu, 18 Mei 2013

Penyebab Bau Mulut Yang (Mungkin) Anda Belum Tahu

Penyebab Bau Mulut Yang (Mungkin) Anda Belum Tahu Courtesy ShutterStock.com

Vemale.com - Apa sih yang biasanya menyebabkan bau mulut? Yang kita ketahui umumnya disebabkan karena kerusakan pada gigi atau makan makanan yang memicu aroma tak sedap. Tetapi, ternyata tak hanya dua hal itu saja yang menyebabkan aroma mulut tak sedap. Tanpa diduga, beberapa hal lain juga turut menjadi penyebab ketidaknyamanan ini.
Menurut penelitian, seperti dilansir oleh boldsky.com, beberapa kasus bau mulut justru disebabkan oleh kebiasaan buruk atau diet yang tidak sehat. Nah, mari kita lihat penyebab-penyebab bau mulut yang mungkin Anda belum mengetahuinya.
Tidak sarapan pagi
Dikatakan baik untuk kesehatan dan diet, ternyata sarapan pagi juga membantu mencegah bau mulut. Mereka yang enggan sarapan pagi cenderung mengalami bau mulut akibat bakteri yang tinggal di dalamnya.
Sarapan pagi membantu meningkatkan jumlah saliva sehingga mulut dan lidah lebih bersih dan tidak ditinggali oleh bakteri penyebab bau mulut.
Problem pada liver
Mereka yang mengalami masalah pada livernya juga cenderung memiliki bau mulut. Liver sebenarnya bertugas untuk mengatur metabolisme tubuh dan lemak. Dan ketika kemampuan liver terganggu, maka bakteri di dalam mulut meningkat jumlahnya. Bakteri inilah yang membuat aroma mulut jadi tak sedap.
Infeksi pada gusi
Apabila Anda mengalami infeksi pada gusi atau sariawan, jangan hanya dibiarkan. Segera atasi dengan berbagai cara untuk menghentikan perdarahan atau infeksi pada gusi. Selain menyebabkan bau mulut, infeksi ini berbahaya bila terus menerus berkembang.
Infeksi tenggorokan
Apabila tenggorokan mengalami infeksi, maka beberapa bakteri berkembang di dalamnya. Bakteri tersebut memicu munculnya lendir yang aromanya tidak sedap.
Gagal ginjal
Mereka yang mengalami gagal ginjal atau problem pada ginjalnya juga cenderung memiliki bau mulut. Dan dalam kasus ini, tidak mudah penanggulangannya karena mereka yang mengalami problem ginjal tidak dapat minum banyak air mineral.
Diet tinggi protein
Disarankan lebih baik mengatur menu diet seimbang ketimbang diet protein. Mereka yang menjalani diet protein kerap memiliki aroma nafas tak sedap karena ada peningkatan jumlah asam amino yang dikonsumsi.
Asam tersebut tinggal di sekitar area mulut dan memicu pertumbuhan bakteri penyebab bau mulut.
Minum alkohol
Apabila Anda gemar minum minuman beralkohol maka potensi memiliki aroma nafas tak sedap sangatlah tinggi. Alkohol membuat air liur di dalam mulut tidak cukup jumlahnya, bahkan hanya diproduksi terbatas. Tak heran apabila bakteri penyebab bau mulut berkembang dengan drastis dan menyebabkan aroma nafas yang tak sedap.
Mengorok
Mereka yang tidur mengorok umumnya tak bisa bernafas dengan baik menggunakan hidung, sehingga udara keluar masuk lewat mulut. Hal ini menyebabkan air liur menjadi kering, dan bakteri penyebab bau mulut berkembang.
Beberapa obat-obatan
Obat-obatan tertentu seperti antidepresi, pereda nyeri atau diuretik biasanya menyebabkan mulut menjadi kering dan terasa pahit. Kondisi ini kemudian berpengaruh terhadap kehadiran air liur yang semakin terbatas, alhasil bau mulut tak bisa dihindari.
Mengatasi hal ini, dianjurkan agar Anda memperbanyak konsumsi air mineral untuk memancing kembali produksi air liur.

Ketahui Kondisi Kesehatanmu Lewat Warna Kuku

Ketahui Kondisi Kesehatanmu Lewat Warna Kuku

Courtesy ShutterStock.com Vemale.com - Seorang wanita bisa menghabiskan berjam-jam untuk sekedar melakukan manicure atau pedicure di salon. Dan memotong kuku sesuka hati serta memulas warna warni cat di atasnya.
Bahkan, bila tidak merasa puas, maka kuku palsu bisa dipasang sehingga jemari jadi lebih lentik saat hendak pergi ke suatu perhelatan. Dianggap sepele, ternyata kuku yang selama tumbuh sehat karena asupan protein dan kalsium ini memberikan manfaat lebih ketimbang sekedar menempel di jemari saja. Kalau diperhatikan lagi, warna kuku terkadang berubah-ubah. Dan perubahan warna tersebut ada kaitannya dengan kondisi kesehatan tubuh Anda.
Seperti dilansir Shape.com, ada beberapa petunjuk kesehatan yang dapat diketahui hanya dengan melihat warna kuku saja. Nah, kalau begitu coba hapus cat kuku Anda dan amati bagaimana warnanya.
Kuku yang pucat
Kuku yang pucat biasanya agak kebiruan dan warnanya tidak semerona biasanya. Hal ini menunjukkan bahwa Anda mungkin sedang mengalami anemia, kekurangan zat besi atau sedang membutuhkan oksigen yang lebih.
Apabila Anda mengalami hal ini, disarankan agar Anda mengonsumsi aneka makanan yang mengandung zat besi tinggi. Perbanyak asupan sayuran hijau, kacang-kacangan, serta daging merah.
Selain itu, apabila warna pucatnya bertahan lebih lama, maka bisa jadi ini merupakan pertanda Anda menderita diabetes atau penyakit lever. Untuk memastikan kondisi Anda, check kesehatan ke dokter saja, terutama jika ada gejala-gejala lain yang muncul juga.
Menebal dan kekuningan
Kuku yang penampilannya seperti ini tentu saja tidak cantik kan. Dan umumnya kuku kaki yang seringkali terlihat kekuningan dan tebal. Menurut Dr. Agarwal, penebalan serta perubahan warna kuku yang kekuningan menunjukkan adanya infeksi jamur pada kaki. Infeksi jamur ini bisa disembuhkan dengan mengonsumsi obat tertentu, yang bisa Anda konsultasikan dengan dokter kulit.
Kuku yang menghitam
Tiba-tiba muncul seperti noda hitam di kuku yang tak bisa hilang dan seperti muncul dari dalam. Hati-hati apabila Anda mengalami hal ini. Warna kehitaman bisa menjadi tanda bahwa Anda mengalami melanoma .
Pun demikian, Anda harus benar-benar melakukan pemeriksaan intens. Karena menghitamnya kuku juga bisa disebabkan karena jatuh atau terhantam benda tumpul dengan keras.
Kuku yang permukaannya tidak rata
Apakah Anda pernah menemukan kuku yang permukaannya tidak rata, dan bahkan parahnya seperti kulit jeruk yang berpori dan berlubang-lubang? Kondisi kuku yang sedang stres ini bisa berarti gejala psoriasis yang membuat kuku terhambat pertumbuhannya dan merusak penampilan kuku.
Umumnya, kuku yang terserang psoriasis pertumbuhannya sangat lama.
Kuku yang tipis dan mudah patah
Jangan sepelekan kuku yang terlalu tipis dan mudah patah. Hal ini bisa jadi menunjukkan bahwa Anda kekurangan hormon thyroid. Biasanya gejala ini juga dibarengi dengan kerontokan rambut yang cukup parah.
Kuku yang bergaris-garis putih
Ada garis tipis-tipis berwarna putih yang horizontal pada kuku. Dan ia tidak pernah hilang, justru semakin lama semakin kentara. Kondisi ini menunjukkan tubuh sedang kekurangan protein, ada problem pada liver, kurang nutrisi atau bahkan menunjukkan ada gangguan pada ginjal.
Umumnya, hal ini terjadi selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan dan menghilang dengan sendirinya.
Kuku yang membiru
Berbeda dengan saat pucat saja, kuku yang membiru ini merata dan birunya lebih gelap. Tidak mudah menghilang dan jemari tidak terasa dingin. Hal ini terjadi saat tubuh kekurangan oksigen atau ada gangguan pada pernafasan. Bisa juga terjadi saat peredaran darah sekitar area tangan kurang lancar atau terikat terlalu lama pada sebuah benda yang menyebabkan oksigen terhenti.
Apabila kondisi ini dibiarkan begitu saja, maka perlahan sel-sel di dalam jaringan tersebut akan rusak.

Ubi Cilembu, Umbi 'Ndeso' Yang Kaya Manfaat

Ubi Cilembu, Umbi 'Ndeso' Yang Kaya Manfaat

Courtesy ShutterStock.com Vemale.com - Ketela rambat adalah jenis umbi-umbian yang biasa ditanam di tanah pedesaan atau pegunungan. Salah satu ketela rambat atau disebut juga ubi yang terkenal adalah ubi Cilembu. Rasanya manis, dan seperti ada madu di dalamnya. Nikmat disantap hangat-hangat bersama teman teh atau kopi.
Dianggap sebagai camilan kampung, ubi Cilembu ini punya banyak manfaat bagi kesehatan. Kaya akan serat dan vitamin A, ubi ternyata juga mengandung mineral penting seperti zat besi, folat, mangan, vitamin C, vitamin B2, vitamin B6, vitamin D dan vitamin E yang baik untuk kulit. Sekalipun mengandung karbohidrat, ubi ini menjadi santapan yang baik untuk para pelaku diet. Apa saja manfaat di balik umbi ini?
Simak beberapa manfaat umbi kampung yang lezat ini yuk.
Mencegah kanker
Warna ubi Cilembu biasanya orange kemerahan. Menunjukkan bahwa ia kaya akan betakaroten dan vitamin A. Di antara umbi-umbi lainnya, ubi Cilembu ini yang diperkirakan dapat membantu mencegah kanker paru-paru dan kanker mulut. Penelitian membuktikan bahwa 124 ribu orang di Universitas Harvard, 32 persennya beresiko terkena kanker paru-paru. Dengan mengonsumsi umbi yang kaya karoten ini, resiko tersebut berkurang jumlahnya.
Mengontrol gula darah
Kadar gula dalam darah umumnya meningkat jumlahnya setelah mengonsumsi karbohidrat . Mereka yang punya masalah dengan kadar gula tinggi di dalam darah disarankan mengonsumsi ubi yang dikukus dan tidak diberi tambahan saus atau gula.
Mencegah serangan jantung
Karena kaya akan vitamin B6, ubi dapat membantu mengurangi zat kimia bernama homocysteine yang biasanya memicu serangan jantung. Potasium di dalam ubi juga menstabilkan tekanan darah sehingga tidak naik turun secara drastis.
Untuk itu, ubi disarankan juga bagi para penderita penyakit jantung dan stroke.
Meredakan stres
Dimakan hangat-hangat sambil menikmati pemandangan sore, ubi dapat membantu meredakan stres. Manfaatnya double karena ubi mengandung mineral potasium yang membantu melawan dan mengurangi stres. Selain itu, pemandangan sore juga membuat hati lebih tentram dan meredakan ketegangan otot di tubuh.
Zat besi di dalam ubi juga menyediakan tambahan energi yang dapat membantu meningkatkan immune tubuh. Sehingga saat tekanan menyerang, tubuh siap menghadapi dan lebih rileks.
Anti aging
Vitamin A di dalam ubi dapat membantu meningkatkan immune tubuh serta merawat kulit dengan baik. Adalah retinol yang biasa dimanfaatkan produk-produk kosmetik high end untuk merawat kulit, yang ternyata terkandung juga di dalam ubi.
Betakarotennya juga dapat melawan radikal bebas penyebab penuaan dini. Anda jadi tak perlu khawatir akan kerutan dan noda-noda hitam yang disebabkan oleh penuaan dini.
Selain itu, kandungan vitamin C dalam ubi ini dapat meningkatkan produksi kolagen, sehingga kulit tetap lembut dan elastis.
Ternyata memang umbi yang satu ini tak boleh dipandang sebelah mata ya. Yuk sajikan sebagai camilan sehat yang cerdas untuk dikonsumsi sehari-hari

Benarkah Tidak Boleh Makan Buah Saat Perut Kosong?

Benarkah Tidak Boleh Makan Buah Saat Perut Kosong?

Courtesy ShutterStock.com Vemale.com - Pernah mendengar pesan nenek yang tidak memperbolehkan Anda makan buah saat perut kosong? Ya, banyak orang berpikir bahwa makan buah saat perut kosong bisa bikin sakit perut. Benarkah demikian?
Buah adalah menu sehat yang kaya berbagai nutrisi dan vitamin penting untuk tubuh. Terdiri dari nutrisi, serat dan air, buah-buahan bisa menjadi pilihan yang sehat sebagai camilan atau dibuat minuman.
Tingginya kandungan gula di dalam buah-buahan, seringkali membuat perut jadi terasa penuh dan menyebabkan gas. Hal ini ternyata disebabkan oleh proses fermentasi yang terjadi setelah makan buah di dalam perut.
Makan buah saat perut kosong itu aman
Para ahli, seperti dikutip dari Shape.com menyatakan bahwa makan buah saat perut kosong itu aman-aman saja kok. Apabila memang perut terasa begah dan banyak gas, ini karena disebabkan proses fermentasi buah di dalam perut. Tidak semua buah akan mengalami proses fermentasi yang sama, umumnya buah yang mengandung asam tinggilah yang memproduksi gas di dalam perut lebih banyak.
Fermentasi sendiri adalah proses penguraian yang melibatkan bakteri di dalam perut. Bakteri tersebut akan tetap bekerja dengan adanya asupan gula yang dikandung buah-buahan. Kemudian, di dalam perut komposisi buah berubah setelah melewati proses fermentasi. Pun demikian, perut yang tinggi kandungan hydrochloric acidnya dapat membuat kondisi perut tetap seimbang.
Kapan boleh makan buah-buahan?
Konon, makan buah dianjurkan dilakukan sebelum makan nasi agar nutrisinya bisa dipetik tubuh dan tidak menjadi racun. Kenyataannya, buah-buahan sendiri tidak hanya mengandung asam, tetapi juga mengandung komposisi yang sama seperti makanan lain. Misalnya saja karbohidrat, protein, lemak dan lain sebagainya. Yang apabila diuraikan, hasilnya akan sama seperti makanan lain.
Anda boleh saja makan buah sebelum makan nasi, dicampur dengan nasi atau sesudah makan nasi. Pernyataan ini didukung oleh Jill Weisenberger, MS, RD, CDE, penulis DIABETES WEIGHT LOSS - WEEK BY WEEK, "jika memang tubuh tidak dapat mencerna buah-buahan sebelum makan nasi, maka tubuh juga tidak akan bisa mencerna sayur-sayuran sebelum makan nasi. Kenyataannya, sayuran memiliki nutrisi yang hampir sama seperti buah-buahan. Apabila diuraikan, sayuran juga punya karbohidrat, protein, lemak, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, tidak masalah apabila Anda memilih makan buah sebelum makan atau sesudah makan."
Yang lebih penting lagi, bukan buah-buahan yang sedang dimakan yang menyebabkan Anda sakit perut. Tetapi, makanan yang mungkin mengandung bakteri jahat, yang menyebabkannya. Perlu diketahui bahwa butuh sekitar 10 jam untuk makanan sampai di usus setelah dicerna di lambung. Sehingga apabila Anda merasa sakit perut mendadak setelah makan sesuatu, Anda patut lebih memperhatikan kehigienisan makanan yang Anda konsumsi

Sabtu, 11 Mei 2013

3 MANFAAT SUKA MENJATUH-JATUHKAN BENDA

3 MANFAAT SUKA MENJATUH-JATUHKAN BENDA

3 MANFAAT SUKA MENJATUH-JATUHKAN BENDA



Tiap batita akan melalui fase hobi menjatuh-jatuhkan benda. Mengapa batita suka sekali pada aktivitas ini? Sensasi apa, sih, yang dirasakannya saat melihat benda yang dipegangnya jatuh?

Sampai pegal rasanya menemani Reno bermain. Maklum, si kecil yang baru saja menginjak usia 1 tahun ini lagi suka-sukanya menjatuhkan barang apa pun yang dipegangnya. Setelah diambilkan, benda tersebut akan dijatuhkannya lagi, begitu terus sampai yang menemaninya bermain bosan karena berulang kali harus membungkuk mengambilkan benda yang ia jatuhkan.



"Tiap batita akan mengalami fase ini, walaupun waktu mulainya tidak harus persis sama. Tapi yang jelas tahapan ini akan dilalui di usia batita awal," ujar Vera Itabiliana, Psi., dari Yayasan Pembina Pendidikan Adik Irma, Jakarta. Meski tiap anak batita pasti melewati tahap ini, tapi durasinya bisa berbeda-beda pada tiap anak. "Ada yang melaluinya dalam jangka waktu sebentar saja, tapi ada juga yang sedikit lebih lama."

Yang justru perlu diwaspadai adalah bila sampai berusia 1 tahun, kemampuan menggenggam sebagai awal fase menjatuhkan belum terlihat berkembang. "Untuk melatihnya, berikan anak benda-benda yang menarik untuk diraih dan digenggam sebagai sarana latihannya," saran Vera. Selain itu orang tua juga bisa memberikan contoh bagaimana menggenggam dan kemudian menjatuhkan benda tersebut agar anak bisa merasakan sensasi yang didapat.

EKSPLORASI INDRA

Sensasi apa sebenarnya yang dirasakan batita saat menjatuh-jatuhkan barang? "Yang paling menarik buat anak adalah suara yang ditimbulkan benda jatuh tersebut," tutur Vera. Bisa suara gemerincing mainan, kaleng, atau bahkan suara barang pecah.

Di usia ini indra anak sedang dalam tahap eksplorasi besar-besaran. Saat melakukan aktivitas tersebut, anak akan menemukan fenomena yang menarik. Di antaranya indra pendengaran akan menangkap bunyi benda jatuh. Indra penglihatannya akan menangkap benda bergerak dari atas ke bawah. Sementara indra perabanya akan merasakan benda yang tadinya ada di tangan kemudian terlepas. Dari hal-hal itulah anak akan belajar bahwa yang ia lakukan sendiri bisa menimbulkan sesuatu yang menyenangkan.

BANYAK MANFAAT

Karena dilakukan terus-menerus, sering kali orang dewasa yang menemani si batita bermain jadi bosan karena harus bolak-balik mengambilkan benda yang dijatuhkannya. "Padahal banyak sekali manfaat yang bisa didapat anak saat melakukan kegiatan tersebut. Lewat fase ini sebenarnya anak melatih keterampilan tangannya. Anak belajar mengkoordinasikan dan mengarahkan gerakan tangannya untuk tujuan tertentu," papar Vera. Fase ini biasanya mengikuti fase belajar menggenggam lalu disusul dengan keterampilan melempar-lempar bola.

Selain keterampilan tangan, ada 3 kemampuan lain yang sedang dikembangkan batita melalui fase ini, yaitu:

o Mengembangkan persepsi tentang ruang.

Di sini anak mulai mengenali posisi atas dan bawah meski mereka belum punya kemampuan berbahasa untuk memberikan label mana atas dan mana bawah.

o Belajar hubungan sebab akibat.

Anak belajar bahwa sesuatu yang ia lakukan dapat menyebabkan sesuatu kejadian yang menyenangkan, seperti bunyi jatuh, perilaku "lucu" ayah atau ibu ketika mengambilkan benda yang jatuh dan sebagainya. Karena kegiatan ini menyenangkannya, ia akan cenderung melakukannya berulang-ulang.

o Mengembangkan kemampuan merencanakan dan menentukan tujuan.

Pertama kali menjatuhkan benda mungkin tidak disengaja. Namun setelah mendengar dan melihat reaksi yang dihasilkan dari benda-benda yang jatuh, anak akan merasakan sensasi dan kemudian mengulanginya. Selanjutnya tindakan menjatuhkan benda menjadi tindakan yang sengaja dilakukannya. Ini dapat diartikan, anak sudah mengembangkan kemampuan berpikir dan merencanakan melakukan sesuatu demi tujuan tertentu. Dalam hal ini adalah mendapatkan sensasi bunyi dan gerak benda jatuh.

7 STIMULUS YANG TEPAT

Tiap tahapan yang dilalui anak akan mendatangkan manfaat. Tentu saja selama orang tua dapat memberikan stimulus yang tepat. Yang penting bagi orang tua adalah betapapun "menyebalkannya" perilaku anak saat getol-getolnya menjatuhkan benda, harus diingat bahwa hal ini merupakan fase belajar bagi anak. Jadi, cobalah memanfaatkan momen ini untuk mengembangkan kemampuannya dengan 7 bentuk stimulus berikut:

1. Berikan benda/mainan yang aman untuk dijatuhkan, misalnya yang terbuat dari plastik, seperti sendok, mangkuk kecil, dan sejenisnya.

2. Usahakan memberikan berbagai benda yang menghasilkan beragam suara saat jatuh. Dengan demikian stimulus pendengaran anak pun jadi lebih kaya. Ia akan belajar bahwa ada macam-macam bunyi dari benda yang berlainan.

3. Orang tua harus ikut terlibat dalam aktivitas ini. Jadi, jangan puas hanya sekadar jadi "tukang mengambilkan" benda yang dijatuhkan si batita. Keterlibatan ini sangat bermanfaat untuk membantu proses belajar anak. Untuk mengenalkan konsep ruang, misalnya, katakan "Ya... sendoknya jatuh deh ke lantai." Jadi tidak sekadar mengambilkan benda yang dijatuhkan anak dan memberikannya kembali tanpa komentar apa pun.

4. Selain mengajarkan konsep ruang, orang tua juga bisa mengajarkan nama-nama benda kepada anak. Contohnya saat anak menjatuhkan bola, mainan, buku dan sebagainya, sebutkan nama benda-benda tersebut. Makin sering benda itu dijatuhkan maka makin sering namanya diulang-diulang, hingga dengan sendirinya anak akan mengenali apa nama benda yang dijatuhkannya itu.

5. Berikan anak sejumlah barang untuk dijatuhkan. Setelah barangnya habis (sudah jatuh semua) atau ketika orang tua merasa lelah atau dirasa aktivitas tersebut sudah berlebihan, hentikan. Caranya dengan mengalihkan perhatiannya ke aktivitas lain seperti memukul-mukul kaleng yang juga menimbulkan sensasi bunyi. Jadi, jangan hanya meminta anak untuk menghentikan aktivitasnya begitu saja tanpa ada pengganti.

6. Orang tua juga dapat memberikan bola untuk digenggam dan digelindingkan karena fase menjatuhkan ini akan berkembang menjadi kemampuan melempar atau menggelindingkan. Walaupun kemampuan anak belum sampai tahap ini, sebaiknya orang tua berusaha untuk selalu berada satu langkah di depan kemampuan anak, agar ia tetap terstimulus untuk terus mengembangkan kemampuannya.

7. Selama melakukan proses belajar, sebaiknya anak tidak ditekan dengan stimulasi yang berlebihan ataupun sebaliknya dihentikan dari kegiatannya dengan alasan apa pun. Memang, akan sangat melelahkan dan bisa menyulut frustrasi, tapi ingat banyak hal yang sedang dikembangkan anak melalui tahapan ini.

UNGKAPAN RASA MARAH

Yang justru perlu diwaspadai adalah ketika aktivitas menjatuh-jatuhkan benda masih terlihat dominan selepas anak berusia 3 tahun. Lain hal jika anak memang mengalami keterlambatan dalam perkembangan motorik atau cacat fisik. Sebab selepas usia ini, tukas Vera, tahapan tersebut harusnya sudah terlewati.

Amati dengan jeli apakah aktivitas menjatuhkan benda-benda ini bertujuan untuk menarik perhatian atau sebagai pelampiasan rasa marah. Jika benar demikian, maka orang tua harus segera mengatasinya. "Kalau sebagai luapan rasa marah, orang tua perlu menenangkan anak dan memberi contoh bagaimana mengekspresikan rasa marah dengan tepat. Tentu saja bukan dengan menjatuh-jatuhkan barang secara sengaja," saran Vera.

sumber mail milis Balita

Memahami Kemampuan Kognitif Si Kecil

Memahami Kemampuan Kognitif Si Kecil

Kecerdasan atau intelegensia anak itu meliputi kecerdasan kognitif, emosi dan sosial. Pada usia batita, perkembangan kecerdasan anak ini tampak mengalami lonjakan besar. Dari mahluk kecil yang lemah dan "keberadaannya" kurang menonjol, menjadi bagian dari keluarga yang justru nyaris menyedot hampir seluruh perhatian anggota keluarga lainnya.

Berbicara dan menguasai tata bahasa
Beberapa bulan setelah ulang tahunnya yang pertama, tiba-tiba Anda menyadari kalau "bayi" Anda kini sudah mampu berkomunikasi bahkan "berbicara" dengan anggota keluarga lainnya. Semakin hari semakin banyak pula perbendaharaan katanya. Maka menjelang usianya yang ke tiga, ia pun sudah mampu menyusun kalimat dan menjelma menjadi mahluk yang "ceriwis" sekali.

Baca-tulis-hitung
Awalnya ia tampak mulai hafal bentuk-bentuk geometris sebagai awal dari huruf, lalu mulai mengenal huruf-huruf dan senang sekali mencoret-coret. Menjelang usia dua tahun ia sudah mengenali angka dan gambar serta mulai menulis dan menggambar dengan lebih terarah. Pada usia tiga tahun, ia sudah mampu menggambar lingkaran dan membaca bahkan menulis nama panggilannya. Ia juga sudah bisa menunjukkan jarinya untuk menggambar berapa banyak usianya.

Logika
Ia pun kini mampu memahami perintah, bila gembira ia bersenandung atau bahkan bernyanyi, mampu memasukkan bentuk-bentuk geometrik ke lubangnya tanpa dibantu, menyadari adanya lingkungan lain di luar keluarganya dan mulai memiliki kemampuan berinteraksi dengan anak lain.

Lain-lain
# Dalam berkomunikasi sudah pandai menggunakan intonasi.
# Dapat lebih menahan emosinya bila diperintahkan.
# Mampu berkonsentrasi penuh.
# Sangat kreatif.
# Sudah mulai mandiri untuk beberapa hal sederhana.

Apa yang dapat dilakukan orang tua?
1. Bahasa:
Anda dapat membantu anak untuk menambah perbendaharaan kata, memperkenalkan hal-hal baru, membetulkan ucapan yang salah, menanggapi dan memuji usahanya. Anak akan senang bila ia mampu menguasai bahasa yang memungkinkan ia mengatakan isi hatinya.

Pada usia ini kemampuan anak untuk menyerap pengetahuan bahasa amat menakjubkan. Dan kalau anak mulai bisa menguasai bahasa dan bisa mengatakan maksudnya, maka ia akan lebih mudah dikendalikan.

Bagaimana caranya? Bercakap-cakaplah dengan wajar pada waktu-waktu Anda bersamanya. Misalnya saat mandi, sebutkan bagian-bagian tubuh yang masih belum diketahuinya. Saat berpakaian, sebutkan jenis pakaian yang sedang dikenakan. Ingat, Anda juga harus menahan diri untuk menyela bila ia tampak sedang berusaha mengatakan sesuatu.

2. Membaca:
Kesenangannya pada buku yang bertambah pesat dapat dijadikan ajang pengenalan huruf maupun angka. Lakukan kegiatan membacakan buku ini secara rutin, pengulangan buku tidak akan menimbulkan masalah karena ia juga dalam masa ingin melakukan pengamatan. Gunakan buku-buku cerita yang sesuai dengan usia anak. Bila mungkin ajaklah anak untuk meniru huruf ataupun angka, serta gambar yang dilihatnya dalam buku cerita tersebut.

3. Pengamatan:
Kebutuhan untuk pengamatan yang konstan dan terus menerus juga muncul di usia ini. Tampaknya si kecil sedang berupaya menarik kesimpulan mengenai dunia di sekitarnya. Anda jangan jengkel bila si kecil bolak-balik minta dibacakan buku cerita yang sama, bolak-balik membuka dan menutup botol minumnya atau mengeluarkan dan memasukkan kembali baju dari lemarinya.

4. Pengenalan Konsep:
Pengenalan konsep ini perlu untuk mengembangkan kemampuan anak dalam bidang matematika. Bermain pura-pura adalah cara yang paling efektif. Bila mungkin siapkan sarana yang menunjang untuk permainan pura-pura ini. Misalnya mainan masak-masakan, dokter-dokteran, dsb.

5. Ilmu Pengetahuan:
Anda dapat memanfaatkan setiap pertanyaannya atau pun minatnya, untuk memperluas wawasan dalam bidang ilmu pengetahuan. Beri ia jawaban dengan kata-kata yang sederhana tetapi jelas. Bila perlu, Anda dapat merangsang minatnya lebih jauh dengan mengajaknya bereksperimen. Yang penting Anda harus membantu anak agar lebih peka terhadap lingkungan untuk mencari hal-hal di balik suatu kejadian dan untuk menggunakan kelima panca inderanya dalam meneliti dunianya.

Sumber: Buklet Milna "Agar Si Kecil Tumbuh Sehat & Cerdas (Psikis)"

Matematika untuk Bayi

Matematika untuk Bayi

Artikel:

Kiat Mengajarkan Matematika Kepada Bayi Berusia O - 1 Tahun
Bersamaan mulai berfungsinya mata seorang bayi dengan normal, sekaligus melihat fisik sekitarnya, proses pengajaran matematika sesungguhnya sedang berlangsung. Karena apa yang dilihatnya jelas berkaitan "batasan-batasan benda", yang gilirannya pada "ukuran" dan "satuan".

Kemudian diperkuat sikap bermanja sang ibu dengan memperlihatkan benda-benda ke hadapannya, sebagaimana dalam usaha membuat si bayi beraksi.

Namun mengingat pamor matematika cenderung untuk konsumsi usia sekolah, sehingga apa yang dilakukan mereka itu seakan-akan tidak berkaitan dengan matematika.

Akibatnya mereka tidak serius, dalam arti, bila ada kesempatan saja. Apalagi adanya predikat "jelimet", "komplek", dan "susah" yang dilekatkan pada tubuh matematika, tentu semakin membuat ibu tidak memprioritaskannya dalam jadwal pengasuhan.

Bila seorang ibu sudah bisa menerima perilakunya seperti itu sebagai proses pengajaran matematika juga, tentu akan semakin terangsang memberikan input kepada bayinya.

Sekarang tinggal pada metode, bagaimana urutan prioritasnya ? Jangan sampai yang lambat dicerna didulukan ketimbang yang cepat ditangkap, karena itu namanya meloncat.

Nah ... berikut ini akan disampaikan beberapa kiatnya (kita batasi pada aritmatika : salah satu cabang dari Matematika) "MEMPERLIHATKAN BOLA"

Perlihatkanlah sejumlah bola dengan beberapa kali pindah posisi, yang berwarna gelap dan berbahan sama. Diameternya lima ukuran saja dulu, 1 cm s/d 5 cm, yang rasanya standar dengan daya penglihatannya. Bukankah puting susu dan daerah hitam pada payudara, yang umumnya sering dilihat bayi ketika mulai menyusu, sekitar itu juga ?

Penampilan awalnya hendaknya berurutan dengan selisih waktu yang cukup. Tampilan acak dilakukan bila bayi sudah akrab. Pada waktunya timbul kesan adanya perbedaan dan persamaan, yakni ketika semuanya diperlihatkan, serta membandingkan besar kecilnya. Dipilih lingkaran mengingat kesempurnaan, kesederhanaan, dan keteraturannya, meskipun diproyeksikan ke bidang, sifat yang tidak dimiliki bangun lainnya.

Satu ukuran yang warnanya berlainan pun boleh, asal tajam serta sudah populer pada diri manusia sepanjang hidupnya. Hitam, hijau, merah, biru, dan kuning, misalkan. Mana sajalah dulu yang dipakai. Substansinya hampir sama juga, hanya jenisnya lain. Ketika tahap sekaligus, pengertian lainnya muncul pada bayi, tepatnya kaitan warna, ukuran, dan satuan melalui penggabungan dua macam input monumental yang sudah dikuasainya.

Pakailah lima bola berdiameter sama serta bisa digenggam. Sebanyak lima kali diperlihatkan, yang masing-masing diambil satu, ..., dan lima. Ini untuk pengurangan. Sebaliknya penjumlahan dengan menambahkan satu, ..., sampai empat pada bola yang tergenggam. Mengingat cirikhas pada setiap jumlah bola yang sering dilihatnya, bayi pun akan melihat kejanggalannya ketika dikurangi atau ditambah. Intersan serupa yang muncul sebentar-sebentar membuatnya semakin memahami hakikat "bertambah" dan "berkurang", yang ditandai perubahan luas kelompok. Apalagi pada peragaan bola yang diameter dan warnanya beragam. Pemahamannya tidak lagi terikat dengan ukuran, tetapi pada jumlah bola yang tampak.

Adanya perasaan "terpisah bila sendiri" dan "bersama saat digendong", yang sudah muncul sebelumnya, sedikit-banyak ikut mempercepat pemahaman tersebut. Bila sudah maksimal barulah bangun lain dilibatkan yang kerumitannya setingkat di atas bola, yaitu kubus, mengingat ketiga sifat bola tersebut masih terkandung juga di dalamnya. Proses pengajarannya sama. Hanya waktunya semakin pendek karena formulanya sudah terjaring pada otak bayi dalam pengajaran bola. Tinggal mengaplikasikanya pada kubus. Bak mudahnya siswa SD menjawab "2 mangga + 3 mangga" di rumah hanya karena sudah memahami hakikat "4 permen + 1 permen" di sekolah. Bisa diteruskan dengan menampilkan keduanya, kotak dan bola, dalam setiap peragaan. Ukuran dan warna tidak perlu dipersoalkan lagi, karena yang dibahas terbatas pada Aritmatika. Masalah jumlah sebaiknya tidak beranjak dari lima, agar semakin memperkuat basis intelektualnya. Toh nanti akan terangsang untuk mempertanyakan objek dengan jumlah berikutnya.

Akhirnya bayi akan benar-benar menganggap "gabungan" dan "pisahan" bisa dilakukan dengan benda apa saja. Terutama setelah bangun-bangun lainnya diperagakan. Pengertiannya tidak akan terpaku pada seragam atau beragam. Yang penting tampak langsung. Misalkan, setelah melihat dua bola dan tiga kotak di meja, yang penyimpanannya dengan tenggang waktu beberapa detik, ia pun mengerti adanya lima buah benda. Tentu saja dalam setiap pengajaran diselingi dengan mengajak bayi melihat benda-benda yang mudah diinderainya di berbagai ruang di rumah. Selesai memperagakan "dua bola", misalnya, bisa dilanjutkan dengan memperlihatkan kedua mata kita. Pokoknya yang sepadan serta sering tampak.

Tiada lain untuk membentuk karakter "pengasosiasian", sehingga terasalah, apa yang diajarkan terhubungkan dengan apa yang dilihatnya. Terang saja bila dua lemari yang diperlihatkan akan susah, karena matanya belum sanggup dipakai untuk melihatnya sekaligus. Bisa-bisa ia memandangnya sebagai satu benda saja. Berarti tidak nyambung. Dua kaki pun sama, mengingat jarang tampak, sehingga kurang ampuh untuk memperkokoh pengertian. Lagi pula jarang orangtua memperlihatkan kakinya. Terlihat oleh bayi pun mungkin tidak. "MENYERTAI KEHIDUPAN BAYI"

Jadi pengajaran ini dimaksudkan untuk menyertai kehidupan bayi sehari-hari, khususnya dalam memandang benda-benda, serta merangsangnya menghubungkan satu sama lain. Bayi yang sudah sering melihat payudara ibunya, maka dengan peragaan "dua bola" dan "tiga kotak", masing-masing segera terbayang olehnya akan "persamaan" atau "perbedaan" intuisinya. Sebaliknya bila tidak, bayangan itu memang akan muncul juga. Tetapi tidak akan secepat itu. Persis dengan dua WNI yang ber-IQ sama disuruh mengumpulkan sejumlah kata dengan awalan huruf tertentu. Apakah sama cepat bila salah satunya menggunakan kamus ? Tidak toh ! Ingat ! Kemampuan menyerap pengajaran matematika pada siswa kelas I SD tidak hanya tergantung tingkat kecerdasan, juga pengalaman era pra sekolah berupa frekwensi pengamatan objek- objek melalui peragaan seperti contoh di atas di samping langsung terhadap objek-objek sekitarnya.

Tidak heranlah bila banyak ilmuwan berkata bahwa banyaknya memori semacam itu terpatri pada bayi akan mempengaruhi daya : kreatif, kritis, atau aktifnya kelak. Terlebih otak saat itu sangat ampuh untuk merekam. Sesungguhnya "masih bayi" tidak tepat dijadikan alasan untuk menangguhkannya. Mendingan alasan "takut salah". Tetapi terakhir ini perlu ditindaklanjuti dengan mencari metodenya. Bila diam saja itu namanya nrimo ! "BERAKOMODASI DENGAN FISIK/MENTAL BAYI" Hanya sebagai konsekwensi fisik/mental bayi masih rawan, caranya harus serba telaten. Dengan kata lain, sesuai dengan karakteristik khasnya. Bagaimana memanjakan dan mencermati dalam memandikan, membobokan, dan menyusui demikian juga hendaknya dengan pengajaran matematika.

Jangan coba-coba berpedoman pada sistim untuk anak usia sekolah. Metode TK pun belum saatnya dipakai. Pokoknya sesuaikan saja dengan dunianya pada usia tersebut. Waktunya harus tepat, ketika badannya sedang bugar dan wajahnya sedang ceria. Syukur-syukur kamar pun tenang dan adem. Jangan sampai alat peragaannya menimpa badan, apalagi mukanya, karena dikhawatirkan menimbulkan trauma, yang gilirannya bersikap kapok. Taroklah terjadi juga. Pertimbangkanlah mencari alternatif sepadan. Misalkan warnanya diganti. Bila bayi tiba-tiba rewel segera hentikan. Ikuti dulu kemauannya. Apakah mau digendong, tidur, atau menyusu ? Bisa juga karena popoknya kurang memuaskan atau terkena kencing. Pokoknya kita harus mempunyai kira-kira, kapan si bayi dalam kondisi prima dan gembira. Untuk itu pribadi khasnya harus dipahami pada berbagai suasana. "MEMPERDENGARKAN ANGKA" Sebutan angka, satu, dua, dan seterusnya,cukup diperdengarkan secara berurutan, pelan, dan bernada. Tanpa itu akan memberi kesan heboh, kaku, dan marah, yang bisa membuatnya terkejut dan menangis, sehingga tidak termakan sedikit pun.

Mengingat pendengaran bayi sudah berfungsi ketika masih dalam rahim, berarti itu bisa dilakukan sejak lahir. Memang mulanya tidak akan mengerti juga. Tetapi karena sering didengar, akan irama verbal akan terekam juga. Berarti kelak semakin mudahlah bayi mengucapkannya ketika sudah bisa berbicara. Tinggal nanti mengaplikasikannya ke sejumlah benda yang terkait, sehingga ia pun akan mengerti, apa yang dimaksud dengan masing- masing. Proses pengajaran ini bisa dilakukan setelah usianya setahun. Semua itu akan memberikan kredit point terhadap wawasan intelektual. Substansinya tidak bisa dianggap kecil. Demikian juga terhadap kemampuannya bergulat seputar matematika di bangku sekolah. Sering kita lihat beberapa mainan/makanan kesukaan bayi berusia dua tahun diambil saudaranya secara diam-diam. Reaksinya beragam, "saat itu juga", "beberapa detik kemudian", atau "tidak sama sekali". Ini mengindikasikan daya hitungnya yang berlainan, terlepas pelit-sosial, takut-berani, dan cuek-pedulinya. Celakanya bila sampai dilakukan orang luar, sementara harganya mahal dan nilainya tinggi. Jadi sesungguhnya dengan pendidikan sejak lahir itu akan memperbesar "daya kritis" di kemudian hari, khususnya sikap tanggap terhadap perubahan hak miliknya. "MILYARAN NEURON BAYI"

Sejak lahir otak manusia yang terdiri dari milyaran neuron itu sudah siap dianyam menjadi jalinan akal melalui masukan berbagai fenomena yang datang dari kehidupannya sehari-hari. Jadi tiada alasan untuk memisahkan bayi dengan matematika sampai usia sekolah, mengingat keduanya sudah berintegrasi otomatis sejak dini. Walaupun sifatnya "autodidak", berdasarkan pengideraan sehari- hari, namun dasar-dasar pengajaran matematika sudah diperolehnya, yakni yang berlangsung secara alamiah. Warna iramanya perlu dikenali sebagai referensi. Kemudian dikembangkan dengan memperkenalkan materi pengajaran yang kira- kira akan membuat si bayi merasakan adanya sambungan memori.

Taroklah bayi sudah sering melihat benda berjumlah "satu", "dua", dan "tiga". Bukan berarti materi selanjutnya dengan lambang bilangan "empat", karena akan bengong, tetapi dengan memperlihatkan benda yang jumlahnya "empat", agar perbendaharaan memorinya semakin banyak. Tanpa memperhitungkan irama, itu ibarat seorang guru TK yang menyanyikan sejumlah lagu, tetapi masing-masing hanya pada bait pertama, dengan alasan, bisa dilanjutkan di rumah. Nah ... bagaimana pun setiap muridnya akan merasa kurang sreg atau belum lengkap. Perasaan kecewa seperti inilah membawa mereka malas mendengarkan, apalagi mengikutinya. "PENUTUP" Akhirnya berpulang pada antusias mereka yang berkompeten untuk merintis sampai mengwujudkannya sebagai budaya pendidikan segmen matematika di kalangan bayi baru lahir. Maka seyogyanya dipikirkan sejak dini.

Bahan ini cocok untuk Informasi / Pendidikan Umum bagian MATAMATIKA / MATHEMATICS.
Nama & E-mail (Penulis): Nasrullah Idris
(Nasrullah, bidang studi : Reformasi Sains Matematika Teknologi)
Nasrullah Idris
Jl H Samsudin No 1
Bandung 40252
indonesia

Masih Tingginya Kematian Balita Di Seluruh Dunia

Masih Tingginya Kematian Balita Di Seluruh Dunia

Anak-anak merupakan kelompok yang paling rentan mengalami kematian. Untuk mengetahui seberapa besar jumlah anak yang mengalami kematian, Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah berupaya keras untuk mengetahui secara pasti.

Setiap tahunnya, lebih dari 10 juta anak yang berusia di bawah 5 tahun mengalami kematian, yang disebabkan oleh 6 penyebab utama, yang mana sebagian besar diantaranya sebenarnya dapat dicegah, demikian yang diungkapkan oleh WHO.

Dari sekitar 10,6 juta balita yang meninggal, 73%-nya disebabkan oleh 6 penyebab utama, yaitu:

1. Pneumonia (radang paru) 19%
2. Diare 18%
3. Malaria 8%
4. Infeksi pada darah atau Pneumonia pada bayi baru lahir 10%
5. Kelahiran prematur 10%
6. Asfiksia (sumbatan jalan napas) 8%

54% kematian pada balita disebabkan oleh ke empat penyakit menular di atas, yang sebenarnya penyakit-penyakit ini dapat dicegah. 53% dari seluruh kematian mempunyai penyebab dasar yang sama, yaitu gizi yang buruk. Seperti yang terjadi di Ethiopia. Anak-anak Ethiopia, berisiko 30 kali lipat untuk mengalami kematian dibanding dengan anak-anak di negara Eropa.

Secara keseluruhan, kematian anak di negara-negara Afrika mencapai 42% dari seluruh kematian anak di seluruh dunia: 94% kematian disebabkan karena malaria, 89% disebabkan karena HIV/AIDS, 46% kematian disebabkan karena Pneumonia (radang paru), 40% karena diare dan 5% karena campak. Sedang anak-anak negara asia tenggara ''menyumbang'' 29% kematian anak, demikian yang dilaporkan dalam jurnal The Lancet.

sumber http://www.info-sehat.com

Imunisasi MMR Tidak Sebabkan Autisme

Imunisasi MMR Tidak Sebabkan Autisme

Sudah sejak lama imunisasi MMR ini menjadi suatu kontroversial karena dihubungkan dengan terjadinya kelainan autisme pada anak. Tapi beberapa peneliti baru-baru ini mengungkapkan bahwa mereka mempunyai bukti kuat bahwa imunisasi MMR tidak berhubungan dengan terjadinya autisme.

Pada tahun 1993, suntikan MMR (measles, mumps and rubella) di kota Jepang telah ditarik dan tidak boleh diberikan pada anak lagi. Tapi kenyataannya, sampai saat ini insidens terjadinya autisme tetap meningkat.

Di Jepang, suntikan MMR diberikan pada anak usia 1 tahun. Di tahun 1988, sebanyak 69,8% anak mendapat suntikan anak, di tahun 1990 menurun hingga mnejadi 33,6% dan di tahun 1992 hanya tinggal 1,8%. Dan akhirnya di tahun 1993, vaksinasi ini ditarik oleh pemerintah.

Kejadian MMR sendiri adalah 48 kasus dari 10.000 anak yang dilahirkan di tahun 1988. Dan tetap terjadi peningkatan walaupun vaksinasi MMR telah ditarik yaitu terdapat 117,2 kasus autisme dari 10.000 anak yang dilahirkan pada tahun 1996.

Tapi para peneliti tetap dituntut melakukan suatu penelitian untuk membuktikan bahwa vaksin MMR ini benar-benar aman digunakan dan tidak menyebabkan autisme pada anak.

Kekhawatiran ini muncul sejak tahun 1998 dimana suatu penyelidikan seorang ahli yang dituangkan dalam jurnal the Lancet, meng-klaim bahwa imunisasi MMR mungkin merupakan pencetus dari terjadinya autisme pada anak. Sebenarnya belum ada penelitian yang membuktikan hal tersebut dan kebanyakan peneliti percaya bahwa vaksin ini aman untuk diberikan pada anak. Tapi hal ini telah membuat semakin sedikit anak yang mendapat vaksinasi MMR.

Vaksinasi MMR adalah vaksin yang diberikan untuk meningkatkan ketahanan tubuh anak terhadap penyakit Mumps (gondongan), Measles (campak) dan Rubella (campak jerman).

Sumber: Journal of Child Psychology and Psychiatry

Mama, Belajar itu Asyik, Lho!

Mama, Belajar itu Asyik, Lho!


Maria Montessori (1780-1952), seorang guru anak-anak yang terkenal pernah berujar: “Yakinlah bahwa di dalam tubuh anak tersimpan semangat belajar yang luar biasa. Ia akan memilih sendiri materi belajarnya dan berusaha menghadapi kesulitan yang akan ditemui.”

Mungkin Anda pernah melihat bahwa anak Anda juga melakukan apa yang dikatakan Montessori di atas. Misalnya, ketika si kecil berusaha membuka bajunya sendiri, mencoret-coret kertas, ataupun ketika ia memperhatikan sebuah buku dengan penuh minat. Hal-hal itu merupakan bagian dari proses belajar anak Anda.

Karena itu, perlu dukungan penuh dari orang tua agar waktu-waktu emas ini dapat digunakan seoptimal mungkin. Hal ini, bisa Anda lakukan di rumah, tak hanya dapat dilakukan oleh lembaga prasekolah saja. Contoh dukungan orang tua di rumah:

1. Memberi mainan yang bersifat edukatif. Misalnya, permainan balok atau mainan lain yang bersifat konstruktif.
2. Merangsang minat baca dengan sering membacakan buku cerita bergambar menarik.
3. Dorong minat tulis dengan menyediakan alat tulis dan kertas.
4. Rangsang anak untuk belajar dengan memberikan pertanyaan secara aktif ketika sedang dalam suatu perjalanan. Misalnya, “Coba, mana pohonnya?”, “Mobil itu warna apa?”
5. Ajak si kecil belajar mandiri.
6. Memberi kesempatan padanya untuk belajar bersosialisasi.

Si Jago Meniru
Anak memang jagoan meniru. Sebab, meniru merupakan satu cara melatih otak, demikian kata pakar pendidikan asal Jerman, Hans Grothe. Untuk memaksimalkan latihan otaknya itu, berilah contoh dalam kegiatan sehari-hari yang merangsang kemampuan otak. Inilah beragam aktivitas yang dapat dilakukan:

1. Eksplorasi lingkungan sekitar
Ajaklah si kecil melihat dunia sekitar sebagai objek untuk dieksplorasi. Daun-daun kering misalnya, dapat dikumpulkan dan ditempelkan ke dalam sebuah buku. Sambil melakukannya, hitunglah daun-daun tersebut. Si kecil akan melihat dan mencoba meniru.

2. Melakukan gerakan sederhana
Ketika makan, si kecil memperhatikan bagaimana cara Anda menggunakan sendok. Jangan kaget bila suatu hari ia berusaha menyuapi Anda. Ia memang meniru gerakan tersebut. Perbanyaklah gerakan sederhana seperti ini, misalnya melambaikan tangan, memberi ciuman, dan sebagainya.

3. Bermain saling meniru gerakan
Permainan ini bisa dilakukan bila Anda merasa bahwa si kecil sudah bosan dengan mainannya. Bila ia melakukan suatu gerakan, tirulah gerakan itu. Lakukan berulang-ulang agar ia mengerti dan tertawa, dan nanti giliran ia yang akan mengikuti gerakan Anda. Dalam permainan inilah Anda dapat mengenalkan beberapa gerakan baru.

4. Mengucapkankata-kata (Balita umumnya sudah dapat mengucapkan kata mama/papa, mungkin tips untuk menambah kosakata / merangkai kata-kata)
Si kecil akan senang mengulang kata-kata yang Anda ajarkan padanya. Mulailah dari kata-kata yang simpel seperti Mama, Papa, mamam, dan sebagainya, supaya ia bisa mengasah kosa katanya.

5. Melakukan sesuatu untuk orang lain
Kegemaran meniru juga bisa lakukan untuk melatih keterampilan bersosialisasi. Ajarkan anak untuk melakukan sesuatu bagi orang lain, misalnya mengambilkan sesuatu, bermain tanpa curang, mengucapkan "terima kasih", "halo", dan "selamat tinggal", menengok kerabat yang sakit, atau menghibur orang lain yang sedang sedih.

sumber www.sahabatnestle.co.id

Makanan Sehat atau Makanan Sakit?

Makanan Sehat atau Makanan Sakit?

Pada masa sekarang, anak-anak balita pun sudah giat bersekolah. Mulai dari kelompok bermain sampai taman kanak-kanak senantiasa penuh oleh tawa canda mereka. Apalagi bila saat makan bersama tiba.

Tapi, tahukah Anda? Sebuah survei yang dilakukan di Inggris memperlihatkan bahwa 9 dari 10 makanan yang dibawa oleh anak saat sekolah mengandung kadar lemak jenuh, garam atau gula yang tinggi. Selain itu, anak cenderung membawa makanan yang sejenis setiap harinya.

Padahal apa yang kita makan sekarang bisa membawa dampak pada masa depan. Makanan yang kandungan gizinya tidak sehat tentu dapat membawa akibat bagi kesehatannya saat ia tumbuh dewasa. Berbagai penyakit seperti penyakit jantung, kencing manis, ginjal atau stroke bisa menjadi ancaman bagi kesehatannya.

Makanan hendaknya mempunyai nutrisi seimbang yang sesuai dengan kebutuhan usianya. Makanan pun harus bervariasi agar ia tidak bosan dan kebutuhan gizi dari berbagai sumber pun terpenuhi.

Kebanyakan anak membawa bekal yang monoton, misalnya roti selai, roti mentega gula pasir atau roti daging setiap harinya. Bukan berarti roti itu jelek, tetapi dengan jenis makanan yang itu-itu saja, apalagi dengan kadar lemak mentega yang tinggi dan gula yang tidak kalah tingginya, akan membuat nutrisi yang diperoleh anak tidak menjadi seimbang.

Ada pula yang lebih “keren”, membawa coklat batangan setiap harinya. Coklat pun baik bila dimakan dengan jumlah yang sesuai. Tapi kalau hanya coklat yang dikonsumsi setiap harinya, tentu hasilnya akan berbeda.

Kalau begitu harus bawa apa dong? Tidak usah bingung. Buah dan sayur yang kita makan sehari-hari pun sudah mempunyai nilai gizi yang baik. Sayangnya, jarang orangtua yang membekali buah dan sayur pada anaknya.

Jadi, mulai sekarang bekali anak kita dengan menu yang bervariasi dan sesuai dengan kebutuhannya, kurangi kadar lemak, gula dan garam yang tinggi, dan sertakan buah dan sayur pada bekal sekolahnya. Dengan itu, mudah-mudahan anak-anak kita akan menjadi generasi yang pintar dan juga sehat.

sumber http://www.info-sehat.com

Madu Untuk Si Mungil?( jangaan!! )

Madu Untuk Si Mungil?

Sebaiknya tidak. Madu yang lezat dan banyak manfaatnya bisa membawa petaka bila diberikan pada si mungil yang belum lagi genap berusia setahun.

Madu diambil dari alam dan dimakan dalam kondisi yang murni. Sayangnya, kemurnian tersebut seringkali dicemari oleh sejenis bakteri yang dapat menghasilkan racun (toksin) dalam saluran cerna bayi. Racun tersebut dikenal dengan istilah toksin botulinum.

Mengapa harus menunggu 1 tahun? Karena setelah melewati usia tersebut, saluran cerna bayi sudah cukup matang dan bakteri tidak bisa tumbuh berkembang di sana.

Memang cukup disayangkan karena madu terkenal sebagai nutrisi yang baik bagi kesehatan. Masalahnya, belum ada proses pengolahan yang mampu membunuh bakteri tersebut tanpa merusak madu itu sendiri.

Kasus keracunan itu sendiri memang jarang terjadi karena tidak semua madu mengandung bakteri tersebut. Karena itu tidak heran bila banyak orang memberikan madu pada bayinya tanpa pernah terjadi efek negatif apapun. Masalahnya, bagaimana kalau kita sedang sial dan mendapat madu yang mengandung bakteri itu?

Dengan alasan tersebut, selalu dianjurkan agar pemberian madu hendaknya baru dilakukan setelah bayi berusia lebih dari 1 tahun.

sumber http://www.info-sehat.com

Lingkungan Belajar Seperti Apa Yang Tepat Bagi Anak ???

Lingkungan Belajar Seperti Apa Yang Tepat Bagi Anak ???

Oleh : Pelangi Midi Prathami, Psi.

Orangtua seringkali bingung terhadap anak-anaknya yang terlihat malas untuk belajar ketika mereka menghadapi minggu ujian atau tidak mengerjakan PR sekolah. Terkadang orang tua menampilkan reaksi marah terhadap anak-anaknya ataupun memberikan komentar-komentar terhadap prestasi belajar yang rendah yang dicapai si-anak. Dapatkah terbentuk minat anak untuk belajar dengan kondisi demikian?

Lingkungan belajar memiliki peranan yang penting di dalam proses belajar seorang anak. Jika lingkungan belajar anak tidak menanamkan penilaian terhadap suatu keberhasilan, maka hal ini secara perlahan akan menghambat perkembangan belajar anak.

Seberapa banyak informasi yang telah dipelajari seorang anak merupakan gambaran dari seberapa besar minatnya untuk belajar. Minat anak untuk belajar merupakan cerminan dari keberhasilan cara pembelajaran yang mereka sukai. Keberhasilan ini akan memotivasi mereka untuk melakukan suatu hal dengan lebih baik. Sebagai contoh, anak yang kuat secara fisik akan menyukai olaharaga bela diri; Anak yang cekatan/terampil akan menyukai permaianan lego, anak yang ahli bahasa sangat menyukai permainan menyusun kata (Scrable). Ketika seorang anak menyadari kemampuanya dalam suatu bidang tertentu, maka ia pun akan dengan sendirinya memiliki motivasi yang kuat untuk melakukan hal tersebut bahkan akan berbuat untuk lebih baik lagi. Membiasakan anak untuk belajar adalah kunci untuk membentuk lingkungan belajar yang positif.

Keinginan anak untuk belajar merupakan hasil dari stimulus yang mereka terima melalui indranya. Apa yang telah mereka pelajari adalah cerminan dari seberapa sering, seberapa kuat dan seberapa lama rangsang dari lingkungan berhasil mereka serap. Kita mungkin dapat membuat anak tinggal pada suatu tempat pada jangka waktu yang cukup lama dan kita berikan suatu materi secara berulang-ulang, tapi kita harus menyadari anak memiliki kontrol sendiri terhadap stimulus yang diterimanya, apabila ia merasa stimulus tersebut menarik atau disukainya, maka ia akan belajar dengan lebih cepat, namun bila tidak proses belajar akan sangat lamban atau bahkan tidak akan pernah terjadi.(bersambung)

Disadur dari Journal of The National Academy For Child Development
Pelangi Midi Prathami, Psi. (AMADIKA Children Development Partner)

Lingkungan Belajar Seperti Apa Yang Tepat Bagi Anak (2)

Oleh : Pelangi Midi Prathami, Psi.

Membuat anak menyukai untuk belajar sangat ditentukan oleh lingkungan belajar mereka. Lingkungan yang memberi respon positif akan mendorong anak untuk belajar lebih giat, sedangkan lingkungan yang memberi respon negatif akan membentuk actual neurological disfunction yang akan menghambat perkembangan dalam proses belajar. Sebagai contoh, komentar orang tua terhadap hasil ujian seorang anak haruslah bersifat positif, hal ini menunjukan pada anak bahwa ia telah menunjukan hal yang bagus, sedangkan bila bersifat negatif akan melemahkan bahkan menghancurkan motivasi anak. Sayangnya, kebanyakan orangtua lebih sering memunculkan respons yang bersifat negatif. Oleh karena itu kita harus belajar untuk menciptakan lingkungan yang positif.

Di bawah ini terdapat beberapa contoh dari perbedaan antara respon yang bersifat positif dengan respons yang bersifat negatif yang ditunjukkan orang tua terhadap anak yang menduduki peringkat ke tiga pada ujian metematikanya :
(-) : Budi, kamu itu anak yang pintar dan ibu sangat berharap kamu bisa mencapai hasil yang lebih baik lagi. Hari ini hasil ujianmu salah satu, kamu harus belajar lebih giat lagi dan lebih berhati-hati dalam mengerjakan soal-soal ujian mu!!
(+) :Budi, ini bagus sekali !! Kamu benar sembilan! Bagaimana kamu bisa sepintar ini ?
(-) : Ani, Kamu salah tiga, kamu harusnya bisa lebih baik dari ini. Mama tidak memberimu hadiah untuk itu.
(+) : Hebat Ani, Kamu benar tujuh dan ada tiga soal yang sulit, ya tapi tidak apa-apa mama akan Bantu kamu untuk menyelesaikan soal sulit ini.
(-) : Adi, ini buruk sekali. Kesalahan kamu lebih dari setengah soal-soal ini, kamu tidak berusaha sungguh-sungguh ya?
(+) : Hebat Adi kamu bisa menyelesaikan ketiga soal ini. Sekarang perhatikan, mama akan coba menyelesaikan soal ini, mama yakin kamu pun pasti bisa menyelesaikannya dengan baik lain waktu.

Dapatkah anak-anak tumbuh dan belajar dalam lingkungan yang memberikan respon negatif bila berbuat kesalahan? Tentu saja bisa, namun anak-anak tidak dapat maju dengan pesat dalam lingkungan tersebut, mereka tidak dapat belajar dan berkembang sebaik jika anak berada di dalam lingkungan yang memberikan respon positif, yang mendukung proses belajar anak. Gejala-gejala dari lingkungan yang memberikan respon negatif termasuk juga cara memberikan perhatian yang kurang baik seperti adanya penyimpangan, motivasi yang rendah, kemarahan, self image yang rendah, perkembangan dan proses belajar yang belum optimal. Menciptakan lingkungan yang memberikan respon positif yang mendukung anak untuk belajar dapat merubah sikap anak, konsep diri mereka, tingkat kemampuan belajar dan tingkat terjadinya proses belajar.

Apa yang anak perlihatkan dari suatu proses belajar adalah sebuah gambaran dari hal-hal yang telah kita tanamkan. Jika kita tidak suka dengan hasil yang telah dicapai oleh anak, maka kita harus mengkaji ulang dan sedikit merubah stimulusnya, membentuk suatu lingkungan belajar yang baik. Kita harus dapat memberikan penjelasan untuk apa yang telah diketahui anak dan memberikan penghargaan untuk apa yang telah mereka lakukan dengan baik. Hasilnya anak akan termotivasi untuk belajar lebih giat lagi.

Disadur dari Journal of The National Academy For Child Development
Pelangi Midi Prathami, Psi.(AMADIKA Children Development Partner)