3 MANFAAT SUKA MENJATUH-JATUHKAN BENDA
3 MANFAAT SUKA MENJATUH-JATUHKAN BENDA
Tiap
batita akan melalui fase hobi menjatuh-jatuhkan benda. Mengapa batita
suka sekali pada aktivitas ini? Sensasi apa, sih, yang dirasakannya saat
melihat benda yang dipegangnya jatuh?
Sampai pegal rasanya
menemani Reno bermain. Maklum, si kecil yang baru saja menginjak usia 1
tahun ini lagi suka-sukanya menjatuhkan barang apa pun yang dipegangnya.
Setelah diambilkan, benda tersebut akan dijatuhkannya lagi, begitu
terus sampai yang menemaninya bermain bosan karena berulang kali harus
membungkuk mengambilkan benda yang ia jatuhkan.
"Tiap
batita akan mengalami fase ini, walaupun waktu mulainya tidak harus
persis sama. Tapi yang jelas tahapan ini akan dilalui di usia batita
awal," ujar Vera Itabiliana, Psi., dari Yayasan Pembina Pendidikan Adik
Irma, Jakarta. Meski tiap anak batita pasti melewati tahap ini, tapi
durasinya bisa berbeda-beda pada tiap anak. "Ada yang melaluinya dalam
jangka waktu sebentar saja, tapi ada juga yang sedikit lebih lama."
Yang
justru perlu diwaspadai adalah bila sampai berusia 1 tahun, kemampuan
menggenggam sebagai awal fase menjatuhkan belum terlihat berkembang.
"Untuk melatihnya, berikan anak benda-benda yang menarik untuk diraih
dan digenggam sebagai sarana latihannya," saran Vera. Selain itu orang
tua juga bisa memberikan contoh bagaimana menggenggam dan kemudian
menjatuhkan benda tersebut agar anak bisa merasakan sensasi yang
didapat.
EKSPLORASI INDRA
Sensasi apa sebenarnya yang
dirasakan batita saat menjatuh-jatuhkan barang? "Yang paling menarik
buat anak adalah suara yang ditimbulkan benda jatuh tersebut," tutur
Vera. Bisa suara gemerincing mainan, kaleng, atau bahkan suara barang
pecah.
Di usia ini indra anak sedang dalam tahap eksplorasi
besar-besaran. Saat melakukan aktivitas tersebut, anak akan menemukan
fenomena yang menarik. Di antaranya indra pendengaran akan menangkap
bunyi benda jatuh. Indra penglihatannya akan menangkap benda bergerak
dari atas ke bawah. Sementara indra perabanya akan merasakan benda yang
tadinya ada di tangan kemudian terlepas. Dari hal-hal itulah anak akan
belajar bahwa yang ia lakukan sendiri bisa menimbulkan sesuatu yang
menyenangkan.
BANYAK MANFAAT
Karena dilakukan
terus-menerus, sering kali orang dewasa yang menemani si batita bermain
jadi bosan karena harus bolak-balik mengambilkan benda yang
dijatuhkannya. "Padahal banyak sekali manfaat yang bisa didapat anak
saat melakukan kegiatan tersebut. Lewat fase ini sebenarnya anak melatih
keterampilan tangannya. Anak belajar mengkoordinasikan dan mengarahkan
gerakan tangannya untuk tujuan tertentu," papar Vera. Fase ini biasanya
mengikuti fase belajar menggenggam lalu disusul dengan keterampilan
melempar-lempar bola.
Selain keterampilan tangan, ada 3 kemampuan lain yang sedang dikembangkan batita melalui fase ini, yaitu:
o Mengembangkan persepsi tentang ruang.
Di
sini anak mulai mengenali posisi atas dan bawah meski mereka belum
punya kemampuan berbahasa untuk memberikan label mana atas dan mana
bawah.
o Belajar hubungan sebab akibat.
Anak belajar bahwa
sesuatu yang ia lakukan dapat menyebabkan sesuatu kejadian yang
menyenangkan, seperti bunyi jatuh, perilaku "lucu" ayah atau ibu ketika
mengambilkan benda yang jatuh dan sebagainya. Karena kegiatan ini
menyenangkannya, ia akan cenderung melakukannya berulang-ulang.
o Mengembangkan kemampuan merencanakan dan menentukan tujuan.
Pertama
kali menjatuhkan benda mungkin tidak disengaja. Namun setelah mendengar
dan melihat reaksi yang dihasilkan dari benda-benda yang jatuh, anak
akan merasakan sensasi dan kemudian mengulanginya. Selanjutnya tindakan
menjatuhkan benda menjadi tindakan yang sengaja dilakukannya. Ini dapat
diartikan, anak sudah mengembangkan kemampuan berpikir dan merencanakan
melakukan sesuatu demi tujuan tertentu. Dalam hal ini adalah mendapatkan
sensasi bunyi dan gerak benda jatuh.
7 STIMULUS YANG TEPAT
Tiap
tahapan yang dilalui anak akan mendatangkan manfaat. Tentu saja selama
orang tua dapat memberikan stimulus yang tepat. Yang penting bagi orang
tua adalah betapapun "menyebalkannya" perilaku anak saat getol-getolnya
menjatuhkan benda, harus diingat bahwa hal ini merupakan fase belajar
bagi anak. Jadi, cobalah memanfaatkan momen ini untuk mengembangkan
kemampuannya dengan 7 bentuk stimulus berikut:
1. Berikan
benda/mainan yang aman untuk dijatuhkan, misalnya yang terbuat dari
plastik, seperti sendok, mangkuk kecil, dan sejenisnya.
2.
Usahakan memberikan berbagai benda yang menghasilkan beragam suara saat
jatuh. Dengan demikian stimulus pendengaran anak pun jadi lebih kaya. Ia
akan belajar bahwa ada macam-macam bunyi dari benda yang berlainan.
3.
Orang tua harus ikut terlibat dalam aktivitas ini. Jadi, jangan puas
hanya sekadar jadi "tukang mengambilkan" benda yang dijatuhkan si
batita. Keterlibatan ini sangat bermanfaat untuk membantu proses belajar
anak. Untuk mengenalkan konsep ruang, misalnya, katakan "Ya...
sendoknya jatuh deh ke lantai." Jadi tidak sekadar mengambilkan benda
yang dijatuhkan anak dan memberikannya kembali tanpa komentar apa pun.
4.
Selain mengajarkan konsep ruang, orang tua juga bisa mengajarkan
nama-nama benda kepada anak. Contohnya saat anak menjatuhkan bola,
mainan, buku dan sebagainya, sebutkan nama benda-benda tersebut. Makin
sering benda itu dijatuhkan maka makin sering namanya diulang-diulang,
hingga dengan sendirinya anak akan mengenali apa nama benda yang
dijatuhkannya itu.
5. Berikan anak sejumlah barang untuk
dijatuhkan. Setelah barangnya habis (sudah jatuh semua) atau ketika
orang tua merasa lelah atau dirasa aktivitas tersebut sudah berlebihan,
hentikan. Caranya dengan mengalihkan perhatiannya ke aktivitas lain
seperti memukul-mukul kaleng yang juga menimbulkan sensasi bunyi. Jadi,
jangan hanya meminta anak untuk menghentikan aktivitasnya begitu saja
tanpa ada pengganti.
6. Orang tua juga dapat memberikan bola
untuk digenggam dan digelindingkan karena fase menjatuhkan ini akan
berkembang menjadi kemampuan melempar atau menggelindingkan. Walaupun
kemampuan anak belum sampai tahap ini, sebaiknya orang tua berusaha
untuk selalu berada satu langkah di depan kemampuan anak, agar ia tetap
terstimulus untuk terus mengembangkan kemampuannya.
7. Selama
melakukan proses belajar, sebaiknya anak tidak ditekan dengan stimulasi
yang berlebihan ataupun sebaliknya dihentikan dari kegiatannya dengan
alasan apa pun. Memang, akan sangat melelahkan dan bisa menyulut
frustrasi, tapi ingat banyak hal yang sedang dikembangkan anak melalui
tahapan ini.
UNGKAPAN RASA MARAH
Yang justru perlu
diwaspadai adalah ketika aktivitas menjatuh-jatuhkan benda masih
terlihat dominan selepas anak berusia 3 tahun. Lain hal jika anak memang
mengalami keterlambatan dalam perkembangan motorik atau cacat fisik.
Sebab selepas usia ini, tukas Vera, tahapan tersebut harusnya sudah
terlewati.
Amati dengan jeli apakah aktivitas menjatuhkan
benda-benda ini bertujuan untuk menarik perhatian atau sebagai
pelampiasan rasa marah. Jika benar demikian, maka orang tua harus segera
mengatasinya. "Kalau sebagai luapan rasa marah, orang tua perlu
menenangkan anak dan memberi contoh bagaimana mengekspresikan rasa marah
dengan tepat. Tentu saja bukan dengan menjatuh-jatuhkan barang secara
sengaja," saran Vera.
sumber mail milis Balita
Memahami Kemampuan Kognitif Si Kecil
Memahami Kemampuan Kognitif Si Kecil
Kecerdasan
atau intelegensia anak itu meliputi kecerdasan kognitif, emosi dan
sosial. Pada usia batita, perkembangan kecerdasan anak ini tampak
mengalami lonjakan besar. Dari mahluk kecil yang lemah dan
"keberadaannya" kurang menonjol, menjadi bagian dari keluarga yang
justru nyaris menyedot hampir seluruh perhatian anggota keluarga
lainnya.
Berbicara dan menguasai tata bahasa
Beberapa bulan
setelah ulang tahunnya yang pertama, tiba-tiba Anda menyadari kalau
"bayi" Anda kini sudah mampu berkomunikasi bahkan "berbicara" dengan
anggota keluarga lainnya. Semakin hari semakin banyak pula
perbendaharaan katanya. Maka menjelang usianya yang ke tiga, ia pun
sudah mampu menyusun kalimat dan menjelma menjadi mahluk yang "ceriwis"
sekali.
Baca-tulis-hitung
Awalnya ia tampak mulai hafal
bentuk-bentuk geometris sebagai awal dari huruf, lalu mulai mengenal
huruf-huruf dan senang sekali mencoret-coret. Menjelang usia dua tahun
ia sudah mengenali angka dan gambar serta mulai menulis dan menggambar
dengan lebih terarah. Pada usia tiga tahun, ia sudah mampu menggambar
lingkaran dan membaca bahkan menulis nama panggilannya. Ia juga sudah
bisa menunjukkan jarinya untuk menggambar berapa banyak usianya.
Logika
Ia
pun kini mampu memahami perintah, bila gembira ia bersenandung atau
bahkan bernyanyi, mampu memasukkan bentuk-bentuk geometrik ke lubangnya
tanpa dibantu, menyadari adanya lingkungan lain di luar keluarganya dan
mulai memiliki kemampuan berinteraksi dengan anak lain.
Lain-lain
# Dalam berkomunikasi sudah pandai menggunakan intonasi.
# Dapat lebih menahan emosinya bila diperintahkan.
# Mampu berkonsentrasi penuh.
# Sangat kreatif.
# Sudah mulai mandiri untuk beberapa hal sederhana.
Apa yang dapat dilakukan orang tua?
1. Bahasa:
Anda
dapat membantu anak untuk menambah perbendaharaan kata, memperkenalkan
hal-hal baru, membetulkan ucapan yang salah, menanggapi dan memuji
usahanya. Anak akan senang bila ia mampu menguasai bahasa yang
memungkinkan ia mengatakan isi hatinya.
Pada usia ini kemampuan
anak untuk menyerap pengetahuan bahasa amat menakjubkan. Dan kalau anak
mulai bisa menguasai bahasa dan bisa mengatakan maksudnya, maka ia akan
lebih mudah dikendalikan.
Bagaimana caranya? Bercakap-cakaplah
dengan wajar pada waktu-waktu Anda bersamanya. Misalnya saat mandi,
sebutkan bagian-bagian tubuh yang masih belum diketahuinya. Saat
berpakaian, sebutkan jenis pakaian yang sedang dikenakan. Ingat, Anda
juga harus menahan diri untuk menyela bila ia tampak sedang berusaha
mengatakan sesuatu.
2. Membaca:
Kesenangannya pada buku yang
bertambah pesat dapat dijadikan ajang pengenalan huruf maupun angka.
Lakukan kegiatan membacakan buku ini secara rutin, pengulangan buku
tidak akan menimbulkan masalah karena ia juga dalam masa ingin melakukan
pengamatan. Gunakan buku-buku cerita yang sesuai dengan usia anak. Bila
mungkin ajaklah anak untuk meniru huruf ataupun angka, serta gambar
yang dilihatnya dalam buku cerita tersebut.
3. Pengamatan:
Kebutuhan
untuk pengamatan yang konstan dan terus menerus juga muncul di usia
ini. Tampaknya si kecil sedang berupaya menarik kesimpulan mengenai
dunia di sekitarnya. Anda jangan jengkel bila si kecil bolak-balik minta
dibacakan buku cerita yang sama, bolak-balik membuka dan menutup botol
minumnya atau mengeluarkan dan memasukkan kembali baju dari lemarinya.
4. Pengenalan Konsep:
Pengenalan
konsep ini perlu untuk mengembangkan kemampuan anak dalam bidang
matematika. Bermain pura-pura adalah cara yang paling efektif. Bila
mungkin siapkan sarana yang menunjang untuk permainan pura-pura ini.
Misalnya mainan masak-masakan, dokter-dokteran, dsb.
5. Ilmu Pengetahuan:
Anda
dapat memanfaatkan setiap pertanyaannya atau pun minatnya, untuk
memperluas wawasan dalam bidang ilmu pengetahuan. Beri ia jawaban dengan
kata-kata yang sederhana tetapi jelas. Bila perlu, Anda dapat
merangsang minatnya lebih jauh dengan mengajaknya bereksperimen. Yang
penting Anda harus membantu anak agar lebih peka terhadap lingkungan
untuk mencari hal-hal di balik suatu kejadian dan untuk menggunakan
kelima panca inderanya dalam meneliti dunianya.
Sumber: Buklet Milna "Agar Si Kecil Tumbuh Sehat & Cerdas (Psikis)"
Matematika untuk Bayi
Matematika untuk Bayi
Artikel:
Kiat Mengajarkan Matematika Kepada Bayi Berusia O - 1 Tahun
Bersamaan
mulai berfungsinya mata seorang bayi dengan normal, sekaligus melihat
fisik sekitarnya, proses pengajaran matematika sesungguhnya sedang
berlangsung. Karena apa yang dilihatnya jelas berkaitan "batasan-batasan
benda", yang gilirannya pada "ukuran" dan "satuan".
Kemudian
diperkuat sikap bermanja sang ibu dengan memperlihatkan benda-benda ke
hadapannya, sebagaimana dalam usaha membuat si bayi beraksi.
Namun
mengingat pamor matematika cenderung untuk konsumsi usia sekolah,
sehingga apa yang dilakukan mereka itu seakan-akan tidak berkaitan
dengan matematika.
Akibatnya mereka tidak serius, dalam arti,
bila ada kesempatan saja. Apalagi adanya predikat "jelimet", "komplek",
dan "susah" yang dilekatkan pada tubuh matematika, tentu semakin membuat
ibu tidak memprioritaskannya dalam jadwal pengasuhan.
Bila
seorang ibu sudah bisa menerima perilakunya seperti itu sebagai proses
pengajaran matematika juga, tentu akan semakin terangsang memberikan
input kepada bayinya.
Sekarang tinggal pada metode, bagaimana
urutan prioritasnya ? Jangan sampai yang lambat dicerna didulukan
ketimbang yang cepat ditangkap, karena itu namanya meloncat.
Nah
... berikut ini akan disampaikan beberapa kiatnya (kita batasi pada
aritmatika : salah satu cabang dari Matematika) "MEMPERLIHATKAN BOLA"
Perlihatkanlah
sejumlah bola dengan beberapa kali pindah posisi, yang berwarna gelap
dan berbahan sama. Diameternya lima ukuran saja dulu, 1 cm s/d 5 cm,
yang rasanya standar dengan daya penglihatannya. Bukankah puting susu
dan daerah hitam pada payudara, yang umumnya sering dilihat bayi ketika
mulai menyusu, sekitar itu juga ?
Penampilan awalnya hendaknya
berurutan dengan selisih waktu yang cukup. Tampilan acak dilakukan bila
bayi sudah akrab. Pada waktunya timbul kesan adanya perbedaan dan
persamaan, yakni ketika semuanya diperlihatkan, serta membandingkan
besar kecilnya. Dipilih lingkaran mengingat kesempurnaan, kesederhanaan,
dan keteraturannya, meskipun diproyeksikan ke bidang, sifat yang tidak
dimiliki bangun lainnya.
Satu ukuran yang warnanya berlainan pun
boleh, asal tajam serta sudah populer pada diri manusia sepanjang
hidupnya. Hitam, hijau, merah, biru, dan kuning, misalkan. Mana sajalah
dulu yang dipakai. Substansinya hampir sama juga, hanya jenisnya lain.
Ketika tahap sekaligus, pengertian lainnya muncul pada bayi, tepatnya
kaitan warna, ukuran, dan satuan melalui penggabungan dua macam input
monumental yang sudah dikuasainya.
Pakailah lima bola berdiameter
sama serta bisa digenggam. Sebanyak lima kali diperlihatkan, yang
masing-masing diambil satu, ..., dan lima. Ini untuk pengurangan.
Sebaliknya penjumlahan dengan menambahkan satu, ..., sampai empat pada
bola yang tergenggam. Mengingat cirikhas pada setiap jumlah bola yang
sering dilihatnya, bayi pun akan melihat kejanggalannya ketika dikurangi
atau ditambah. Intersan serupa yang muncul sebentar-sebentar membuatnya
semakin memahami hakikat "bertambah" dan "berkurang", yang ditandai
perubahan luas kelompok. Apalagi pada peragaan bola yang diameter dan
warnanya beragam. Pemahamannya tidak lagi terikat dengan ukuran, tetapi
pada jumlah bola yang tampak.
Adanya perasaan "terpisah bila
sendiri" dan "bersama saat digendong", yang sudah muncul sebelumnya,
sedikit-banyak ikut mempercepat pemahaman tersebut. Bila sudah maksimal
barulah bangun lain dilibatkan yang kerumitannya setingkat di atas bola,
yaitu kubus, mengingat ketiga sifat bola tersebut masih terkandung juga
di dalamnya. Proses pengajarannya sama. Hanya waktunya semakin pendek
karena formulanya sudah terjaring pada otak bayi dalam pengajaran bola.
Tinggal mengaplikasikanya pada kubus. Bak mudahnya siswa SD menjawab "2
mangga + 3 mangga" di rumah hanya karena sudah memahami hakikat "4
permen + 1 permen" di sekolah. Bisa diteruskan dengan menampilkan
keduanya, kotak dan bola, dalam setiap peragaan. Ukuran dan warna tidak
perlu dipersoalkan lagi, karena yang dibahas terbatas pada Aritmatika.
Masalah jumlah sebaiknya tidak beranjak dari lima, agar semakin
memperkuat basis intelektualnya. Toh nanti akan terangsang untuk
mempertanyakan objek dengan jumlah berikutnya.
Akhirnya bayi akan
benar-benar menganggap "gabungan" dan "pisahan" bisa dilakukan dengan
benda apa saja. Terutama setelah bangun-bangun lainnya diperagakan.
Pengertiannya tidak akan terpaku pada seragam atau beragam. Yang penting
tampak langsung. Misalkan, setelah melihat dua bola dan tiga kotak di
meja, yang penyimpanannya dengan tenggang waktu beberapa detik, ia pun
mengerti adanya lima buah benda. Tentu saja dalam setiap pengajaran
diselingi dengan mengajak bayi melihat benda-benda yang mudah
diinderainya di berbagai ruang di rumah. Selesai memperagakan "dua
bola", misalnya, bisa dilanjutkan dengan memperlihatkan kedua mata kita.
Pokoknya yang sepadan serta sering tampak.
Tiada lain untuk
membentuk karakter "pengasosiasian", sehingga terasalah, apa yang
diajarkan terhubungkan dengan apa yang dilihatnya. Terang saja bila dua
lemari yang diperlihatkan akan susah, karena matanya belum sanggup
dipakai untuk melihatnya sekaligus. Bisa-bisa ia memandangnya sebagai
satu benda saja. Berarti tidak nyambung. Dua kaki pun sama, mengingat
jarang tampak, sehingga kurang ampuh untuk memperkokoh pengertian. Lagi
pula jarang orangtua memperlihatkan kakinya. Terlihat oleh bayi pun
mungkin tidak. "MENYERTAI KEHIDUPAN BAYI"
Jadi pengajaran ini
dimaksudkan untuk menyertai kehidupan bayi sehari-hari, khususnya dalam
memandang benda-benda, serta merangsangnya menghubungkan satu sama lain.
Bayi yang sudah sering melihat payudara ibunya, maka dengan peragaan
"dua bola" dan "tiga kotak", masing-masing segera terbayang olehnya akan
"persamaan" atau "perbedaan" intuisinya. Sebaliknya bila tidak,
bayangan itu memang akan muncul juga. Tetapi tidak akan secepat itu.
Persis dengan dua WNI yang ber-IQ sama disuruh mengumpulkan sejumlah
kata dengan awalan huruf tertentu. Apakah sama cepat bila salah satunya
menggunakan kamus ? Tidak toh ! Ingat ! Kemampuan menyerap pengajaran
matematika pada siswa kelas I SD tidak hanya tergantung tingkat
kecerdasan, juga pengalaman era pra sekolah berupa frekwensi pengamatan
objek- objek melalui peragaan seperti contoh di atas di samping langsung
terhadap objek-objek sekitarnya.
Tidak heranlah bila banyak
ilmuwan berkata bahwa banyaknya memori semacam itu terpatri pada bayi
akan mempengaruhi daya : kreatif, kritis, atau aktifnya kelak. Terlebih
otak saat itu sangat ampuh untuk merekam. Sesungguhnya "masih bayi"
tidak tepat dijadikan alasan untuk menangguhkannya. Mendingan alasan
"takut salah". Tetapi terakhir ini perlu ditindaklanjuti dengan mencari
metodenya. Bila diam saja itu namanya nrimo ! "BERAKOMODASI DENGAN
FISIK/MENTAL BAYI" Hanya sebagai konsekwensi fisik/mental bayi masih
rawan, caranya harus serba telaten. Dengan kata lain, sesuai dengan
karakteristik khasnya. Bagaimana memanjakan dan mencermati dalam
memandikan, membobokan, dan menyusui demikian juga hendaknya dengan
pengajaran matematika.
Jangan coba-coba berpedoman pada sistim
untuk anak usia sekolah. Metode TK pun belum saatnya dipakai. Pokoknya
sesuaikan saja dengan dunianya pada usia tersebut. Waktunya harus tepat,
ketika badannya sedang bugar dan wajahnya sedang ceria. Syukur-syukur
kamar pun tenang dan adem. Jangan sampai alat peragaannya menimpa badan,
apalagi mukanya, karena dikhawatirkan menimbulkan trauma, yang
gilirannya bersikap kapok. Taroklah terjadi juga. Pertimbangkanlah
mencari alternatif sepadan. Misalkan warnanya diganti. Bila bayi
tiba-tiba rewel segera hentikan. Ikuti dulu kemauannya. Apakah mau
digendong, tidur, atau menyusu ? Bisa juga karena popoknya kurang
memuaskan atau terkena kencing. Pokoknya kita harus mempunyai kira-kira,
kapan si bayi dalam kondisi prima dan gembira. Untuk itu pribadi
khasnya harus dipahami pada berbagai suasana. "MEMPERDENGARKAN ANGKA"
Sebutan angka, satu, dua, dan seterusnya,cukup diperdengarkan secara
berurutan, pelan, dan bernada. Tanpa itu akan memberi kesan heboh, kaku,
dan marah, yang bisa membuatnya terkejut dan menangis, sehingga tidak
termakan sedikit pun.
Mengingat pendengaran bayi sudah berfungsi
ketika masih dalam rahim, berarti itu bisa dilakukan sejak lahir. Memang
mulanya tidak akan mengerti juga. Tetapi karena sering didengar, akan
irama verbal akan terekam juga. Berarti kelak semakin mudahlah bayi
mengucapkannya ketika sudah bisa berbicara. Tinggal nanti
mengaplikasikannya ke sejumlah benda yang terkait, sehingga ia pun akan
mengerti, apa yang dimaksud dengan masing- masing. Proses pengajaran ini
bisa dilakukan setelah usianya setahun. Semua itu akan memberikan
kredit point terhadap wawasan intelektual. Substansinya tidak bisa
dianggap kecil. Demikian juga terhadap kemampuannya bergulat seputar
matematika di bangku sekolah. Sering kita lihat beberapa mainan/makanan
kesukaan bayi berusia dua tahun diambil saudaranya secara diam-diam.
Reaksinya beragam, "saat itu juga", "beberapa detik kemudian", atau
"tidak sama sekali". Ini mengindikasikan daya hitungnya yang berlainan,
terlepas pelit-sosial, takut-berani, dan cuek-pedulinya. Celakanya bila
sampai dilakukan orang luar, sementara harganya mahal dan nilainya
tinggi. Jadi sesungguhnya dengan pendidikan sejak lahir itu akan
memperbesar "daya kritis" di kemudian hari, khususnya sikap tanggap
terhadap perubahan hak miliknya. "MILYARAN NEURON BAYI"
Sejak
lahir otak manusia yang terdiri dari milyaran neuron itu sudah siap
dianyam menjadi jalinan akal melalui masukan berbagai fenomena yang
datang dari kehidupannya sehari-hari. Jadi tiada alasan untuk memisahkan
bayi dengan matematika sampai usia sekolah, mengingat keduanya sudah
berintegrasi otomatis sejak dini. Walaupun sifatnya "autodidak",
berdasarkan pengideraan sehari- hari, namun dasar-dasar pengajaran
matematika sudah diperolehnya, yakni yang berlangsung secara alamiah.
Warna iramanya perlu dikenali sebagai referensi. Kemudian dikembangkan
dengan memperkenalkan materi pengajaran yang kira- kira akan membuat si
bayi merasakan adanya sambungan memori.
Taroklah bayi sudah
sering melihat benda berjumlah "satu", "dua", dan "tiga". Bukan berarti
materi selanjutnya dengan lambang bilangan "empat", karena akan bengong,
tetapi dengan memperlihatkan benda yang jumlahnya "empat", agar
perbendaharaan memorinya semakin banyak. Tanpa memperhitungkan irama,
itu ibarat seorang guru TK yang menyanyikan sejumlah lagu, tetapi
masing-masing hanya pada bait pertama, dengan alasan, bisa dilanjutkan
di rumah. Nah ... bagaimana pun setiap muridnya akan merasa kurang sreg
atau belum lengkap. Perasaan kecewa seperti inilah membawa mereka malas
mendengarkan, apalagi mengikutinya. "PENUTUP" Akhirnya berpulang pada
antusias mereka yang berkompeten untuk merintis sampai mengwujudkannya
sebagai budaya pendidikan segmen matematika di kalangan bayi baru lahir.
Maka seyogyanya dipikirkan sejak dini.
Bahan ini cocok untuk Informasi / Pendidikan Umum bagian MATAMATIKA / MATHEMATICS.
Nama & E-mail (Penulis): Nasrullah Idris
(Nasrullah, bidang studi : Reformasi Sains Matematika Teknologi)
Nasrullah Idris
Jl H Samsudin No 1
Bandung 40252
indonesia
Masih Tingginya Kematian Balita Di Seluruh Dunia
Masih Tingginya Kematian Balita Di Seluruh Dunia
Anak-anak
merupakan kelompok yang paling rentan mengalami kematian. Untuk
mengetahui seberapa besar jumlah anak yang mengalami kematian, Badan
Kesehatan Dunia (WHO) telah berupaya keras untuk mengetahui secara
pasti.
Setiap tahunnya, lebih dari 10 juta anak yang berusia di
bawah 5 tahun mengalami kematian, yang disebabkan oleh 6 penyebab utama,
yang mana sebagian besar diantaranya sebenarnya dapat dicegah, demikian
yang diungkapkan oleh WHO.
Dari sekitar 10,6 juta balita yang meninggal, 73%-nya disebabkan oleh 6 penyebab utama, yaitu:
1. Pneumonia (radang paru) 19%
2. Diare 18%
3. Malaria 8%
4. Infeksi pada darah atau Pneumonia pada bayi baru lahir 10%
5. Kelahiran prematur 10%
6. Asfiksia (sumbatan jalan napas) 8%
54%
kematian pada balita disebabkan oleh ke empat penyakit menular di atas,
yang sebenarnya penyakit-penyakit ini dapat dicegah. 53% dari seluruh
kematian mempunyai penyebab dasar yang sama, yaitu gizi yang buruk.
Seperti yang terjadi di Ethiopia. Anak-anak Ethiopia, berisiko 30 kali
lipat untuk mengalami kematian dibanding dengan anak-anak di negara
Eropa.
Secara keseluruhan, kematian anak di negara-negara Afrika
mencapai 42% dari seluruh kematian anak di seluruh dunia: 94% kematian
disebabkan karena malaria, 89% disebabkan karena HIV/AIDS, 46% kematian
disebabkan karena Pneumonia (radang paru), 40% karena diare dan 5%
karena campak. Sedang anak-anak negara asia tenggara ''menyumbang'' 29%
kematian anak, demikian yang dilaporkan dalam jurnal The Lancet.
sumber http://www.info-sehat.com
Imunisasi MMR Tidak Sebabkan Autisme
Imunisasi MMR Tidak Sebabkan Autisme
Sudah
sejak lama imunisasi MMR ini menjadi suatu kontroversial karena
dihubungkan dengan terjadinya kelainan autisme pada anak. Tapi beberapa
peneliti baru-baru ini mengungkapkan bahwa mereka mempunyai bukti kuat
bahwa imunisasi MMR tidak berhubungan dengan terjadinya autisme.
Pada
tahun 1993, suntikan MMR (measles, mumps and rubella) di kota Jepang
telah ditarik dan tidak boleh diberikan pada anak lagi. Tapi
kenyataannya, sampai saat ini insidens terjadinya autisme tetap
meningkat.
Di Jepang, suntikan MMR diberikan pada anak usia 1
tahun. Di tahun 1988, sebanyak 69,8% anak mendapat suntikan anak, di
tahun 1990 menurun hingga mnejadi 33,6% dan di tahun 1992 hanya tinggal
1,8%. Dan akhirnya di tahun 1993, vaksinasi ini ditarik oleh pemerintah.
Kejadian
MMR sendiri adalah 48 kasus dari 10.000 anak yang dilahirkan di tahun
1988. Dan tetap terjadi peningkatan walaupun vaksinasi MMR telah ditarik
yaitu terdapat 117,2 kasus autisme dari 10.000 anak yang dilahirkan
pada tahun 1996.
Tapi para peneliti tetap dituntut melakukan
suatu penelitian untuk membuktikan bahwa vaksin MMR ini benar-benar aman
digunakan dan tidak menyebabkan autisme pada anak.
Kekhawatiran
ini muncul sejak tahun 1998 dimana suatu penyelidikan seorang ahli yang
dituangkan dalam jurnal the Lancet, meng-klaim bahwa imunisasi MMR
mungkin merupakan pencetus dari terjadinya autisme pada anak. Sebenarnya
belum ada penelitian yang membuktikan hal tersebut dan kebanyakan
peneliti percaya bahwa vaksin ini aman untuk diberikan pada anak. Tapi
hal ini telah membuat semakin sedikit anak yang mendapat vaksinasi MMR.
Vaksinasi
MMR adalah vaksin yang diberikan untuk meningkatkan ketahanan tubuh
anak terhadap penyakit Mumps (gondongan), Measles (campak) dan Rubella
(campak jerman).
Sumber: Journal of Child Psychology and Psychiatry
Mama, Belajar itu Asyik, Lho!
Mama, Belajar itu Asyik, Lho!
Maria
Montessori (1780-1952), seorang guru anak-anak yang terkenal pernah
berujar: “Yakinlah bahwa di dalam tubuh anak tersimpan semangat belajar
yang luar biasa. Ia akan memilih sendiri materi belajarnya dan berusaha
menghadapi kesulitan yang akan ditemui.”
Mungkin Anda pernah
melihat bahwa anak Anda juga melakukan apa yang dikatakan Montessori di
atas. Misalnya, ketika si kecil berusaha membuka bajunya sendiri,
mencoret-coret kertas, ataupun ketika ia memperhatikan sebuah buku
dengan penuh minat. Hal-hal itu merupakan bagian dari proses belajar
anak Anda.
Karena itu, perlu dukungan penuh dari orang tua agar
waktu-waktu emas ini dapat digunakan seoptimal mungkin. Hal ini, bisa
Anda lakukan di rumah, tak hanya dapat dilakukan oleh lembaga prasekolah
saja. Contoh dukungan orang tua di rumah:
1. Memberi mainan yang bersifat edukatif. Misalnya, permainan balok atau mainan lain yang bersifat konstruktif.
2. Merangsang minat baca dengan sering membacakan buku cerita bergambar menarik.
3. Dorong minat tulis dengan menyediakan alat tulis dan kertas.
4. Rangsang anak untuk belajar dengan memberikan pertanyaan secara
aktif ketika sedang dalam suatu perjalanan. Misalnya, “Coba, mana
pohonnya?”, “Mobil itu warna apa?”
5. Ajak si kecil belajar mandiri.
6. Memberi kesempatan padanya untuk belajar bersosialisasi.
Si Jago Meniru
Anak
memang jagoan meniru. Sebab, meniru merupakan satu cara melatih otak,
demikian kata pakar pendidikan asal Jerman, Hans Grothe. Untuk
memaksimalkan latihan otaknya itu, berilah contoh dalam kegiatan
sehari-hari yang merangsang kemampuan otak. Inilah beragam aktivitas
yang dapat dilakukan:
1. Eksplorasi lingkungan sekitar
Ajaklah si kecil melihat dunia sekitar sebagai objek untuk
dieksplorasi. Daun-daun kering misalnya, dapat dikumpulkan dan
ditempelkan ke dalam sebuah buku. Sambil melakukannya, hitunglah
daun-daun tersebut. Si kecil akan melihat dan mencoba meniru.
2. Melakukan gerakan sederhana
Ketika makan, si kecil memperhatikan bagaimana cara Anda
menggunakan sendok. Jangan kaget bila suatu hari ia berusaha menyuapi
Anda. Ia memang meniru gerakan tersebut. Perbanyaklah gerakan sederhana
seperti ini, misalnya melambaikan tangan, memberi ciuman, dan
sebagainya.
3. Bermain saling meniru gerakan
Permainan ini bisa dilakukan bila Anda merasa bahwa si kecil sudah bosan
dengan mainannya. Bila ia melakukan suatu gerakan, tirulah gerakan itu.
Lakukan berulang-ulang agar ia mengerti dan tertawa, dan nanti giliran
ia yang akan mengikuti gerakan Anda. Dalam permainan inilah Anda dapat
mengenalkan beberapa gerakan baru.
4. Mengucapkankata-kata
(Balita umumnya sudah dapat mengucapkan kata mama/papa, mungkin tips
untuk menambah kosakata / merangkai kata-kata)
Si kecil akan
senang mengulang kata-kata yang Anda ajarkan padanya. Mulailah dari
kata-kata yang simpel seperti Mama, Papa, mamam, dan sebagainya, supaya
ia bisa mengasah kosa katanya.
5. Melakukan sesuatu untuk orang lain
Kegemaran meniru juga bisa lakukan untuk melatih keterampilan
bersosialisasi. Ajarkan anak untuk melakukan sesuatu bagi orang lain,
misalnya mengambilkan sesuatu, bermain tanpa curang, mengucapkan "terima
kasih", "halo", dan "selamat tinggal", menengok kerabat yang sakit,
atau menghibur orang lain yang sedang sedih.
sumber www.sahabatnestle.co.id
Makanan Sehat atau Makanan Sakit?
Makanan Sehat atau Makanan Sakit?
Pada
masa sekarang, anak-anak balita pun sudah giat bersekolah. Mulai dari
kelompok bermain sampai taman kanak-kanak senantiasa penuh oleh tawa
canda mereka. Apalagi bila saat makan bersama tiba.
Tapi, tahukah
Anda? Sebuah survei yang dilakukan di Inggris memperlihatkan bahwa 9
dari 10 makanan yang dibawa oleh anak saat sekolah mengandung kadar
lemak jenuh, garam atau gula yang tinggi. Selain itu, anak cenderung
membawa makanan yang sejenis setiap harinya.
Padahal apa yang
kita makan sekarang bisa membawa dampak pada masa depan. Makanan yang
kandungan gizinya tidak sehat tentu dapat membawa akibat bagi
kesehatannya saat ia tumbuh dewasa. Berbagai penyakit seperti penyakit
jantung, kencing manis, ginjal atau stroke bisa menjadi ancaman bagi
kesehatannya.
Makanan hendaknya mempunyai nutrisi seimbang yang
sesuai dengan kebutuhan usianya. Makanan pun harus bervariasi agar ia
tidak bosan dan kebutuhan gizi dari berbagai sumber pun terpenuhi.
Kebanyakan
anak membawa bekal yang monoton, misalnya roti selai, roti mentega gula
pasir atau roti daging setiap harinya. Bukan berarti roti itu jelek,
tetapi dengan jenis makanan yang itu-itu saja, apalagi dengan kadar
lemak mentega yang tinggi dan gula yang tidak kalah tingginya, akan
membuat nutrisi yang diperoleh anak tidak menjadi seimbang.
Ada
pula yang lebih “keren”, membawa coklat batangan setiap harinya. Coklat
pun baik bila dimakan dengan jumlah yang sesuai. Tapi kalau hanya coklat
yang dikonsumsi setiap harinya, tentu hasilnya akan berbeda.
Kalau
begitu harus bawa apa dong? Tidak usah bingung. Buah dan sayur yang
kita makan sehari-hari pun sudah mempunyai nilai gizi yang baik.
Sayangnya, jarang orangtua yang membekali buah dan sayur pada anaknya.
Jadi,
mulai sekarang bekali anak kita dengan menu yang bervariasi dan sesuai
dengan kebutuhannya, kurangi kadar lemak, gula dan garam yang tinggi,
dan sertakan buah dan sayur pada bekal sekolahnya. Dengan itu,
mudah-mudahan anak-anak kita akan menjadi generasi yang pintar dan juga
sehat.
sumber http://www.info-sehat.com
Madu Untuk Si Mungil?( jangaan!! )
Madu Untuk Si Mungil?
Sebaiknya
tidak. Madu yang lezat dan banyak manfaatnya bisa membawa petaka bila
diberikan pada si mungil yang belum lagi genap berusia setahun.
Madu
diambil dari alam dan dimakan dalam kondisi yang murni. Sayangnya,
kemurnian tersebut seringkali dicemari oleh sejenis bakteri yang dapat
menghasilkan racun (toksin) dalam saluran cerna bayi. Racun tersebut
dikenal dengan istilah toksin botulinum.
Mengapa harus menunggu 1
tahun? Karena setelah melewati usia tersebut, saluran cerna bayi sudah
cukup matang dan bakteri tidak bisa tumbuh berkembang di sana.
Memang
cukup disayangkan karena madu terkenal sebagai nutrisi yang baik bagi
kesehatan. Masalahnya, belum ada proses pengolahan yang mampu membunuh
bakteri tersebut tanpa merusak madu itu sendiri.
Kasus keracunan
itu sendiri memang jarang terjadi karena tidak semua madu mengandung
bakteri tersebut. Karena itu tidak heran bila banyak orang memberikan
madu pada bayinya tanpa pernah terjadi efek negatif apapun. Masalahnya,
bagaimana kalau kita sedang sial dan mendapat madu yang mengandung
bakteri itu?
Dengan alasan tersebut, selalu dianjurkan agar pemberian madu hendaknya baru dilakukan setelah bayi berusia lebih dari 1 tahun.
sumber http://www.info-sehat.com
Lingkungan Belajar Seperti Apa Yang Tepat Bagi Anak ???
Lingkungan Belajar Seperti Apa Yang Tepat Bagi Anak ???
Oleh : Pelangi Midi Prathami, Psi.
Orangtua
seringkali bingung terhadap anak-anaknya yang terlihat malas untuk
belajar ketika mereka menghadapi minggu ujian atau tidak mengerjakan PR
sekolah. Terkadang orang tua menampilkan reaksi marah terhadap
anak-anaknya ataupun memberikan komentar-komentar terhadap prestasi
belajar yang rendah yang dicapai si-anak. Dapatkah terbentuk minat anak
untuk belajar dengan kondisi demikian?
Lingkungan belajar
memiliki peranan yang penting di dalam proses belajar seorang anak. Jika
lingkungan belajar anak tidak menanamkan penilaian terhadap suatu
keberhasilan, maka hal ini secara perlahan akan menghambat perkembangan
belajar anak.
Seberapa banyak informasi yang telah dipelajari
seorang anak merupakan gambaran dari seberapa besar minatnya untuk
belajar. Minat anak untuk belajar merupakan cerminan dari keberhasilan
cara pembelajaran yang mereka sukai. Keberhasilan ini akan memotivasi
mereka untuk melakukan suatu hal dengan lebih baik. Sebagai contoh, anak
yang kuat secara fisik akan menyukai olaharaga bela diri; Anak yang
cekatan/terampil akan menyukai permaianan lego, anak yang ahli bahasa
sangat menyukai permainan menyusun kata (Scrable). Ketika seorang anak
menyadari kemampuanya dalam suatu bidang tertentu, maka ia pun akan
dengan sendirinya memiliki motivasi yang kuat untuk melakukan hal
tersebut bahkan akan berbuat untuk lebih baik lagi. Membiasakan anak
untuk belajar adalah kunci untuk membentuk lingkungan belajar yang
positif.
Keinginan anak untuk belajar merupakan hasil dari
stimulus yang mereka terima melalui indranya. Apa yang telah mereka
pelajari adalah cerminan dari seberapa sering, seberapa kuat dan
seberapa lama rangsang dari lingkungan berhasil mereka serap. Kita
mungkin dapat membuat anak tinggal pada suatu tempat pada jangka waktu
yang cukup lama dan kita berikan suatu materi secara berulang-ulang,
tapi kita harus menyadari anak memiliki kontrol sendiri terhadap
stimulus yang diterimanya, apabila ia merasa stimulus tersebut menarik
atau disukainya, maka ia akan belajar dengan lebih cepat, namun bila
tidak proses belajar akan sangat lamban atau bahkan tidak akan pernah
terjadi.(bersambung)
Disadur dari Journal of The National Academy For Child Development
Pelangi Midi Prathami, Psi. (AMADIKA Children Development Partner)
Lingkungan Belajar Seperti Apa Yang Tepat Bagi Anak (2)
Oleh : Pelangi Midi Prathami, Psi.
Membuat
anak menyukai untuk belajar sangat ditentukan oleh lingkungan belajar
mereka. Lingkungan yang memberi respon positif akan mendorong anak untuk
belajar lebih giat, sedangkan lingkungan yang memberi respon negatif
akan membentuk actual neurological disfunction yang akan menghambat
perkembangan dalam proses belajar. Sebagai contoh, komentar orang tua
terhadap hasil ujian seorang anak haruslah bersifat positif, hal ini
menunjukan pada anak bahwa ia telah menunjukan hal yang bagus, sedangkan
bila bersifat negatif akan melemahkan bahkan menghancurkan motivasi
anak. Sayangnya, kebanyakan orangtua lebih sering memunculkan respons
yang bersifat negatif. Oleh karena itu kita harus belajar untuk
menciptakan lingkungan yang positif.
Di bawah ini terdapat
beberapa contoh dari perbedaan antara respon yang bersifat positif
dengan respons yang bersifat negatif yang ditunjukkan orang tua terhadap
anak yang menduduki peringkat ke tiga pada ujian metematikanya :
(-)
: Budi, kamu itu anak yang pintar dan ibu sangat berharap kamu bisa
mencapai hasil yang lebih baik lagi. Hari ini hasil ujianmu salah satu,
kamu harus belajar lebih giat lagi dan lebih berhati-hati dalam
mengerjakan soal-soal ujian mu!!
(+) :Budi, ini bagus sekali !! Kamu benar sembilan! Bagaimana kamu bisa sepintar ini ?
(-) : Ani, Kamu salah tiga, kamu harusnya bisa lebih baik dari ini. Mama tidak memberimu hadiah untuk itu.
(+)
: Hebat Ani, Kamu benar tujuh dan ada tiga soal yang sulit, ya tapi
tidak apa-apa mama akan Bantu kamu untuk menyelesaikan soal sulit ini.
(-) : Adi, ini buruk sekali. Kesalahan kamu lebih dari setengah soal-soal ini, kamu tidak berusaha sungguh-sungguh ya?
(+)
: Hebat Adi kamu bisa menyelesaikan ketiga soal ini. Sekarang
perhatikan, mama akan coba menyelesaikan soal ini, mama yakin kamu pun
pasti bisa menyelesaikannya dengan baik lain waktu.
Dapatkah
anak-anak tumbuh dan belajar dalam lingkungan yang memberikan respon
negatif bila berbuat kesalahan? Tentu saja bisa, namun anak-anak tidak
dapat maju dengan pesat dalam lingkungan tersebut, mereka tidak dapat
belajar dan berkembang sebaik jika anak berada di dalam lingkungan yang
memberikan respon positif, yang mendukung proses belajar anak.
Gejala-gejala dari lingkungan yang memberikan respon negatif termasuk
juga cara memberikan perhatian yang kurang baik seperti adanya
penyimpangan, motivasi yang rendah, kemarahan, self image yang rendah,
perkembangan dan proses belajar yang belum optimal. Menciptakan
lingkungan yang memberikan respon positif yang mendukung anak untuk
belajar dapat merubah sikap anak, konsep diri mereka, tingkat kemampuan
belajar dan tingkat terjadinya proses belajar.
Apa yang anak
perlihatkan dari suatu proses belajar adalah sebuah gambaran dari
hal-hal yang telah kita tanamkan. Jika kita tidak suka dengan hasil yang
telah dicapai oleh anak, maka kita harus mengkaji ulang dan sedikit
merubah stimulusnya, membentuk suatu lingkungan belajar yang baik. Kita
harus dapat memberikan penjelasan untuk apa yang telah diketahui anak
dan memberikan penghargaan untuk apa yang telah mereka lakukan dengan
baik. Hasilnya anak akan termotivasi untuk belajar lebih giat lagi.
Disadur dari Journal of The National Academy For Child Development
Pelangi Midi Prathami, Psi.(AMADIKA Children Development Partner)