Apakah Anda menyadari kalau sekarang ini cuaca
terasa kian panas? Atau hujan kian deras dan panjang? Hmm, yang terakhir ini
tentunya gambaran akan banjir yang melanda Jakarta (dan mungkin rumah
Anda) Januari silam langsung terlintas di ingatan. Untuk refresh memori Anda,
climate change terjadi karena produksi gas karbondioksida – sebagian besar dari
pabrik dan mobil – yang berlebihan menumpuk di lapisan ozon sehingga
memerangkap cahaya matahari yang membuat bumi ini kian panas, tapi hujan deras
di momen berikutnya lantaran semakin besar juga penguapan air laut.
Tentu ada alasan lain mengapa bumi ini makin
panas (maraknya pembangunan gedung berlapis kaca, penggundulan hutan, dan
penggunaan AC adalah tiga di antaranya), tapi, hampir semua ilmuwan dan policy
maker sepakat, climate change dipandang sebagai kontributor terbesar. Nah, bila
tubuh Anda tidak siap menghadapi perubahan tersebut, maka bisa berdampak buruk
pada kesehatan Anda. So, di artikel ini, Cosmo akan memaparkan segala yang
perlu Anda ketahui untuk mencegahnya. Dan, sebagai bonus, pada saat yang
bersamaan..
·
Aktifkan diri untuk
mencari tahu mengenai dampak yang disebabkan oleh climate change. Know what’s
going on in YOUR world.
·
Belanja dengan tas belanja
khusus. Di beberapa negara maju, penggunaan kantong plastik sudah dilarang. And
there’s a pretty good reason for this: Plastik termasuk bahan yang sulit
terurai di lingkungan. Kalau dibakar (seperti yang masih biasa dilakukan oleh
sebagian besar masyarakat Indonesia), maka gas karbondioksida (CO2) yang
terlepas akan kian meningkatkan efek rumah kaca. Plus, asap hasil pembakaran
plastik (yang mengandung rangkaian senyawa berbahaya) dapat menimbulkan risiko
terkena kanker paru-paru.
·
Carbon footprint – what’s
this? Tanpa Anda sadari, setiap hari Anda membawa mobil – atau motor – menuju
kantor atau mal atau tempat hangout, kendaraan pilihan Anda akan mengeluarkan
emisi CO2. inilah yang disebut jejak karbon. Your biggest carbon footprint?
Pelesir ke luar negeri. Obviusly, peswat terbang memproduksi emisi CO2
terbesar. Well, you need your vacation, namun untuk hal kendaraan sehari-hari,
Cosmo sarankan, go Commuter.
·
Donasi untuk organisasi
konservasi lingkungan seperti Greenpeace atau WWF. Secara Anda pasti tak punya
waktu blusukan ke hutan rimba atau mengampanyekan aksi peduli lingkungan ke
masyarakat luas (luar Jawa), maka bantulah para aktivis dan relawan organisasi
tersebut secara finansial. Apalagi kini dibuat kian mudah dengan sistem donasi
autodebet yang bekerja sama dengan bank-bank terkemuka.
·
Earth Hour: Rayakan Hari
Bumi yang jatuh pada 22 April dengan mematikan listrik Anda selama satu jam
saja. Di tahun 2012, Earth Hour di Indonesia berhasil menghemat daya listrik
sebesar 546 megawatt, yang bila dinominalkan, sama dengan Rp 800 juta!
·
Fearless & Fabulous –
in principles. Lihat saja supermodel Giselle Bundchen yang sangat concern
dengan konservasi air bersih dan Natalie Portman yang menjadi vegetarian
setelah mengetahui “industri” peternakan hewan seperti sapi dan ayam merupakan
salah satu kontributor emisi CO2 terbesar.
·
Gabung organisasi
lingkungan. Kalau Anda rasa menyumbang saja tidak cukup, ini satu-satunya opsi,
bukan? Atau, tiru aksi Rachel McAdams yang membuat situs greenissexy.org, Nadya
Hutagalung dengan greenkampong.com atau Cameron Diaz (yang kerap dijuluki Queen
of Green) yang pernah co-wrote buku manual berjudul Green Book.
·
Hemat energi, yang berarti
mematikan seluruh sumber energi sebelum berangkat kantor dan sebelum tidur.
Daningat, machine on standby akan tetap menyerap daya listrik. FYI, semakin
besar konsumsi listrik Anda, maka semakin besar juga sumber daya alam (batu bara,
minyak bumi, gas bumi) yang dikerahkan. Hal ini akan melambungkan tingkat
polusi udara yang berpotensi mengganggu saluran pernapasan.
·
Imagine a better, cleaner,
healthier future, untuk anak Anda, cucu Anda – you any that, right?
·
Jalan kaki, kemanapun (apabila
memungkinkan). Tempat meeting ada di depan mata, tak perlu naik mobil atau
kendaraan umum, kan? Selain bentuk olahraga termudah, dengan berjalan kaki Anda
akan mengurangi carbon footprint.
·
Kurangi beban pencemaran
udara di rumah dengan menggantikan produk-produk sarat kimia beracun seperti
cairan pembersih atau pengusir serangga. Untuk pembersih, gunakan baking soda,
lemon atau cuka putih. Sementara ganti cairan anti nyamuk dengan tanaman Zodia
asal Papua yang konon sama ampuhnya dalam mengusir serangga.
·
Libatkan teman-teman dan
keluarga. Yup, spread the word, tapi jangan dengan cara yang terlalu
menceramahi atau ngotot ya, bisa-bisa nantinya Anda malah dianggap aneh. Do it
(mostly) through action.
·
Napas yang baik dan benar
sedalam-dalamnya. Ini akan memperkuat paru-paru Anda yang tugas utamanya adalah
untuk menyalurkan oksigen ke seluruh tubuh. “Paru-paru adalah ‘tameng’ utama
dalam tubuh untuk melawan toksin yang berada di lingkungan sekitar,” ujar
Holger Schunemann, M.D., kepala peneliti tentang hubungan antara kapasitas
paru-paru dan mortalitas. Kalau Anda suka jalan kaki atau bersepeda, gunakanlah
masker wajah supaya asap kendaraan tidak mencemari tubuh Anda.
·
Olahraga, untuk alasan
yang cukup jelas tentunya. Dengan rutin berolahraga, sistem kekebalan tubuh
Anda akan semakin kuat menghadapi perubahan iklim yang drastis.
·
Print kertas bolak-balik.
Bayangkan, sebuah pohon yang telah berumur puluhan tahun, ditebang, dijadikan
kertas, dan, saat tiba di tangan Anda, digunakan untuk cetak dokumen, lalu setelah
tak diperlukan lagi, dibuang begitu saja. Such a waste, right? Sekarang ini
kerap terjadi penebangan pepohonan yang tidak bertanggung jawab, sehingga
mengakibatkan minimnya ketersediaan udara dan air bersih.
·
Quit using styrofoam.
Selain sulit terurai, menurut The National Bureau of Standards Centre for Fire
Research di Amerika, pembuatan dan pembakaran styrofoam akan melepaskan 57
bahan kimia berbahaya ke udara. Dan, bila dijadikan container untuk makanan
yang masih hangat, bahan kimia tersebut bisa meresap ke dalam makanan Anda.
Enjoy your lunch, ladies!
·
Recycle, recycle, recycle.
Pisahkan sampah yang bisa didaur ulang (karton, kertas, botol plastik, baterai)
dan sampah basah. Untuk jenis sampah yang terakhir ini, Anda bisa membuat
lubang bipori di halaman rumah dan membuang sampah basah ke dalamnya untuk menyuburkan
tanah di sekelilingnya. FYI, sampah basah yang dibakar akan melepaskan gas CH4
(yang lebih parah dari CO2) yang bisa menimbulkan beragam gejala penyakit pada
manusia.
·
Sumber daya alam tak
selamanya bisa diperbaharui. So, dengan sehemat mungkin menggunakan kendaraan
dan listrik, Anda tak hanya menjamin kebersihan udara dan meminimalisir
perubahan iklim, tapi juga melanggengkan pasokan sumber daya alam bumi!
·
Tanam pohon yang akan
melepaskan lebih banyak oksigen bersih ke udara. Bahkan, berdasarkan riset
Clean Air Study yang dilakukan oleh NASA, ada beberapa tanaman yang bisa
menyerap gas beracun, seperti sansivera, lili paris, palem, crysanthemum,
aglaonema, dan sri gading. Kalau Anda merasa sudah cukup pohon dan tanaman di
rumah, ikutilah gerakan penanaman pohon bersama WWF.
·
Uang elektronik sepertinya akan menjadi populer
mulai tahun ini, dengan beberapa aplikasi smartphone memungkinkan Anda untuk
pembayaran transaksi. Sarana busway pun sekarang telah menggunakan uang
elektronik. Ingat, dear: Less paper, cleaner air.
·
Vitamin, supaya tubuh Anda tidak gampang terserang
penyakit. Walaupun kini semakin banyak orang mengandalkan suntikan vitamin
cocktail untuk hasil instan, menurut Dr. Charlotte Neuman dari University of
California, “Berhati-hatilah dengan vitamin A, E, D, dan K. Dalam bentuk
tablet, saluran gastrointestinal tubuh, dengan selaput lendir pelindungnya,
akan berfungsi sebagai filter sehingga mencegah risiko overdosis. Vitamin yang
langsung disuntikkan ke darah berpotensi jadi racun. Plus, vitamin yang saya
sebut sebelumnya termasuk non-soluble, jadi kalau berlebihan akan menumpuk di
tubuh.” Solusinya? Andalkan cara alami dengan menyantap buah dan sayur mayur.